Kimiya`us sa`adah

PENDAHULUAN

Ketahuilah bahawa manusia ini bukanlah dijadikan untuk gurau-senda atau “sia-sia”

saja. Tetapi adalah dijadikan dengan ‘Ajaib sekali dan untuk tujuan yang besar dan
mulia. Meskipun manusia itu bukan Qadim (kekal dari azali lagi), namun ia hidup
selama-lamanya. Meskipun tubuhnya kecil dan berasal dari bumi, namun Ruh atau
Nyawa adalah tinggi dan berasal dari sesuatu yang bersifat Ketuhanan. Apabila
hawa nafsunya dibersihkan sebersih-bersihnya, maka ia akan mencapai taraf yang
paling tinggi. Ia tidak lagi menjadi hamba kepada hawa nafsu yang rendah. Ia
akan mempunyai sifat-sifat seperti Malaikat.

Dalam peringkat yang tinggi itu, didapatinya SyurgaNya adalah dalam
bertafakur mengenang Alloh Yang Maha Indah dan Kekal Abadi.

Tidaklah lagi ia tunduk kepada kehendak-kehendak kebendaan dan kenafsuan semata-mata. Al-Kimiya’ Keruhanian yang membuat pertukaran ini. Seorang manusia itu adalah ibarat Kimia yang menukarkan logam biasa (Base Metal) menjadi emas. Kimia ini bukan senang hendak dicari. Ia bukan ada dalam sebarang rumah orang.

Kimia ini ialah ringkasnya berpaling dari dunia dan menghadap kepada
Alloh Subhanahuwa Taala.
Bahan-bahan Kimia ini adalah empat :
1. Mengenal Diri
2. Mengenal Alloh
3. Mengenal Dunia ini Sebenarnya. (Hakikat Dunia)
4. Mengenal Akhirat sebenarnya (Hakikat Akhirat)
Tambah lagi satu bahan-bahan kimianya yaitu Mencintai Alloh sebagaimana yang
terdapat dalam bab-bab.
Kita akan teruskan perbincangan kita berkenaan bahan-bahan ini satu-
persatu…Insya Alloh.

Untuk menerangkan Al-Kimiya’ itu dan cara-cara operasinya, maka pengarang
(Imam Ghazali) coba menulis Kitab ini dan diberi judul “Al-Kimiya’ As-Saadah”
yakni Kimia Kebahagiaan. Bahwa perbendaharaan Tuhan dimana Kimia ini boleh
didapati ialah Hati Para Ambiya’ dan pewaris-pewarisNya dari kalangan ulama-
ulama Sufi kalangan Aulia Alloh. Barang siapa yang mencarinya selain itu adalah
sia-sia dan akan Muflis (bangkrut) di Hari Pengadilan kelak apabila ia mendengar
suara yang mengatakan :

“Kami telah angkat tirai dari kamu, dan pandangan kamu hari ini sangat
tajam dan nyata”.(Qaaf:22)

Alloh Subhanahuwa Taala telah turunkan ke bumi ini 124,000 orang Ambiya
untuk mengajar manusia tentang bahan-bahan Al-Kimiya ini. Bagaimana hendak
menyucikan hati mereka dari sifat-sifat rendah dan keji itu. Ikuti perkembangan
perbincangan Imam Ghazali ini dari satu tingkat ke satu tingkat yang membuka
jalan-jalan orang-orang Sufi yang mencapai Maqam Mahabbah, puncak tertinggi
kebahagiaan yang ingin dimiliki oleh orang-orang yang Mengenal Alloh.

ANAK KUNCI UNTUK MENGENAL ALLOH
Mengenal diri itu adalah “Anak Kunci” untuk Mengenal Alloh. Hadis ada
mengatakan :
MAN ‘ARAFA NAFSAHU FAQAD ‘ARAFA RABBAHU
(Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Alloh)
Firman Alloh Taala :
1

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami
di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi
mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak
cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?

(QS. 41:53)

Tidak ada hal yang melebihi diri sendiri. Jika anda tidak kenal diri
sendiri, bagaimana anda hendak tahu hal-hal yang lain? Yang dimaksudkan dengan
Mengenal Diri itu bukanlah mengenal bentuk lahir anda, tubuh, muka, kaki, tangan
dan lain-lain anggota anda itu. karena mengenal semua hal itu tidak akan
membawa kita mengenal Alloh. Dan bukan pula mengenal perilaku dalam diri anda
yaitu bila anda lapar anda makan, bila dahaga anda minum, bila marah anda
memukul dan sebagainya. Jika anda bermaksud demikian, maka binatang itu
sama juga dengan anda. Yang dimaksudkan sebenarnya mengenal diri itu ialah:

Apakah yang ada dalam diri anda itu?

Dari mana anda datang? Kemana anda pergi? Apakah tujuan anda berada dalam dunia fana ini? Apakah sebenarnya bagian dan apakah sebenarnya derita?

Sebagian daripada sifat-sifat anda adalah bercorak kebinatangan. Sebagian pula
bersifat Iblis dan sebagian pula bersifat Malaikat. Anda hendaklah tahu sifat yang
mana perlu ada, dan yang tidak perlu. Jika anda tidak tahu, maka tidaklah anda
tahu di mana letaknya kebahagiaan anda itu.

Kerja binatang ialah makan, tidur dan berkelahi. Jika anda hendak jadi binatang,
buatlah itu saja. Iblis dan syaitan itu sibuk hendak menyesatkan manusia, pandai
menipu dan berpura-pura. Kalau anda hendak menurut mereka itu, lakukan
sebagaimana kerja-kerja mereka itu. Malaikat sibuk dengan memikir dan
memandang Keindahan Ilahi. Mereka bebas dari sifat-sifat kebinatangan.

Jika anda ingin bersifat dengan sifat KeMalaikatan, maka berusahalah
menuju asal anda itu agar dapat anda mengenali dan menuju pada Alloh
Yang Maha Tinggi dan bebas dari belenggu hawa nafsu. Sebaiknya
hendaklah anda tahu kenapa anda dilengkapi dengan sifat-sifat
kebintangan itu.

A dakah sifat-sifat kebinatangan itu akan menaklukkan anda atau adakah anda
menakluki mereka?. Dan dalam perjalanan anda ke atas martabat yang tinggi itu,
anda akan gunakan mereka sebagai tunggangan dan sebagai senjata.

Langkah pertama untuk mengenal diri ialah mengenal bahwa anda itu terdiri dari
bentuk yang zhohir, yaitu tubuh ; dan hal yang batin yaitu hati atau Ruh
. Yang dimaksudkan dengan “HATI” itu bukanlah daging yang terletak dalam
sebelah kiri tubuh.

Yang dimaksudkan dengan “HATI” itu ialah satu hal yang dapat
menggunakan semua kekuatan, yang lain itu hanyalah sebagai alat dan
kaki tangannya saja. Pada hakikat hati itu bukan termasuk dalam bidang
Alam Nyata(Alam Ijsam) tetapi adalah termasuk dalam Alam Ghaib. Ia
datang ke Alam Nyata ini ibarat pengembara yang melawat negeri asing
untuk tujuan berniaga dan akhirnya kembali akan kembali juga ke negeri
asalnya. Mengenal hal seperti inilah dan sifat-sifat itulah yang menjadi
“Anak Kunci” untuk mengenal Alloh.

Sedikit ide tentang hakikat Hati atau Ruh ini bolehlah didapati dengan
memejamkan mata dan melupakan segala hal yang lain kecuali diri sendiri.
Dengan cara ini, dia akan dapat melihat tabiat atau keadaan “diri yang tidak

terbatas itu”. Meninjau lebih dalam tentang Ruh itu adalah dilarang oleh
hukum. Dalam Al-Quran ada diterang,

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Bani Israil:85)

Demikianlah sepanjang yang diketahui tentang Ruh itu dan ia adalah mutiara
yang tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan dan ia termasuk dalam”Alam
Amar/perintah”.Ia bukanlah tanpa permulaan. Ia ada permulaan dan

diciptakan oleh Alloh. Pengetahuan falsafah yang tepat mengenai Ruh ini
bukanlah permulaan yang harus ada dalam perjalanan Agama, tetapi adalah
hasil dari disiplin diri dan berpegang teguh dalam jalan itu, seperti tersebut di
dalam Al-Quran :

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-
benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan
sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
(Al-Ankabut:69)

Untuk menjalankan perjuangan Keruhanian ini, bagi upaya pengenalan kepada
diri dan Tuhan, maka
2
\u2022
Tubuh itu bolehlah diibaratkan sebagai sebuah Kerajaan,
\u2022
Ruh itu ibarat Raja.
\u2022
Pelbagai indera (senses) dan daya (fakulti) itu ibarat satu
pasukan tentara.
\u2022
Aqal itu bisa diibaratkan sebagai Perdana Menteri.
\u2022
Perasaan itu ibarat Pemungut pajak, perasaan itu terus
ingin merampas dan merampok.
\u2022
Marah itu ibarat Pegawai Polisi,
\u2022
marah sentiasa cenderung kepada kekasaran dan
kekerasan.

Perasaan dan marah ini perlu ditundukkan di bawah perintah Raja. Bukan dibunuh
atau dimusnahkan karena mereka ada tugas yang perlu mereka jalankan, tetapi
jika perasaan dan marah menguasai Aqal, maka tentulah Ruh akan hancur.

Ruh yang membiarkan kekuatan bawah menguasai kekuatan atas adalah ibarat
orang orang yang menyerahkan malaikat kepada kekuasaan Anjing atau
menyerahkan seorang Muslim ke tangan orang Kafir yang zalim. Orang yang
menumbuh dan memelihara sifat-sifat iblis atau binatang atau Malaikat akan
menghasilkan ciri-ciri atau watak yang sepadan dengannya yaitu iblis atau binatang
atau Malaikat itu. Dan semua sifat-sifat atau ciri-ciri ini akan nampak dengan
bentuk-bentuk yang jelas di Hari Pengadilan.

\u2022
Orang yang menurut hawa nafsu nampak seperti babi,
\u2022
Orang yang garang dan ganas seperti anjing dan serigala,
\u2022
Orang yang suci seperti Malaikat.

Tujuan disiplin akhlak (moral) ialah untuk membersihkan Hati dari karat-karat hawa
nafsu dan amarah, sehingga ia jadi seperti cermin yang bersih yang akan
memantulkan Cahaya Alloh Subhanahuwa Taala.

Mungkin ada orang bertanya,

“Jika seorang itu telah dijadikan dengan mempunyai sifat-sifat binatang,
Iblis dan juga Malaikat, bagaimanakah kita hendak tahu yang sifat-sifat
Malaikat itu adalah sifatnya yang hakiki dan yang lain-lain itu hanya
sementara dan bukan sengaja?”

Jawabannya ialah mutiara atau inti sesuatu makhluk itu ialah dalam sifat-sifat yang
paling tinggi yang ada padanya dan khusus baginya. Misalnya keledai dan kuda
adalah dua jenis binatang pembawa barang-barang, tetapi kuda itu dianggap lebih
tinggi darjatnya dari keledai karena kuda itu digunakan untuk peperangan. Jika ia
tidak boleh digunakan dalam peperangan, maka turunlah ke bawah derajatnya
kepada derajat binatang pembawa barang-barang. saja.

Begitu juga dengan manusia; daya yang paling tinggi padanya ialah ia bisa berfikir
yaitu Aqal. Dengan pikiran itu dia bisa memikirkan hal-hal Ketuhanan. Jika daya
berfikir ini yang meliputi dirinya, maka bila ia mati (bercerai nyawa dari tubuh) , ia

akan meninggalkan di belakang semua kecenderungan pada hawa nafsu dan
marah, dan layak duduk bersama dengan Malaikat. Jika berkenaan dengan
sifat-sifat Kebinatangan, maka manusia itu lebih rendah tarafnya dari binatang,
tetapi Aqal menjadikan manusia itu lebih tinggi tarafnya, karena Al-Quran ada
menerangkan bahwa,

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan
untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan
menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara
manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu
pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.
(Luqman:20)

Jika sifat-sifat yang rendah itu menguasai manusia, maka setelah mati, ia akan
memandang terhadap keduniaan dan merindukan keindahan di dunia saja.
Ruh manusia yang berakal itu penuh dengan kekuasaan dan
pengetahuan yang sangat menakjubkan.
Dengan Ruh Yang Berakal itu manusia dapat menguasai segala cabang
ilmu dan Sains.
Dapat mengembara dari bumi ke langit dan balik semula ke bumi dalam

sekejap mata.
Dapat memetakan langit dan mengukur jarak antara bintang-bintang.
Dengan Ruh itu juga manusia dapat menangkap ikan ikan dari laut dan

burung-burung dari udara.
Menundukkan binatang-binatang untuk tunduk kepadanya seperti gajah,
unta dan kuda.
Lima indera (pancaindera) manusia itu adalah ibarat lima buah pintu terbuka
menghadap ke Alam Nyata (Alam Syahadah) ini.
Lebih ajaib dari itu lagi ialah Hati. Hatinya itu adalah sebuah pintu yang
terbuka menghadap ke Alam Arwah (Ruh-ruh) yang ghaib.

Dalam keadaan tidur, apabila pintu-pintu dunia tertutup, pintu Hati ini terbuka
dan manusia menerima berita atau kesan-kesan dari Alam Ghaib dan kadang-
kadang membayangkan hal-hal yang akan datang. Maka hatinya adalah ibarat
cermin yang memantulkan (bayangan) apa yang tergambar di Luh Mahfuz.
Tetapi meskipun dalam tidur, pikiran tentang hal-hal keduniaan akan
menggelapkan cermin ini. maka gambaran yang diterimanya tidaklah terang.
Setelah lepasnya nyawa dengan tubuh (mati), Pikiran-pikiran tersebut hilang
sirna dan segala sesuatu terlihatlah dalam keadaan yang sebenarnya.

3
Firman Alloh dalam Al-Quran :

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami
singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka
penglihatanmu pada hari itu amat tajam.(Qaaf:22).

PEMBUKAAN HATI KE ALAM GHAIB

Pembukaan pintu hati ke Alam Ghaib ini berlaku juga dalam kondisi-kondisi yang dekat Wahyu Kenabian, di mana Intuisi atau Wahyu atau Ilham terbit dalam pikiran tanpa di bawa melalui saluran-saluran indera(pancaindera) sebagaimana seseorang itu menyucikan dirinya dari pengaruh nafsu kebendaan dan menumpukan(konsentrasi) pikirannya kepada Alloh. Maka semakin bertambah teranglah kesadarannya pada Intuisi atau Ilham yang seperti itu. Mereka yang tidak tahu tentang hal ini tidak berhak menafikan hakikat tersebut.

Intuisi (Ilham) ini bukanlah terbatas bagi mereka Kenabian saja. Ibarat besi, jika selalu digosok dan digilap akan menjadi berkilat seperti cermin. Begitu juga jiwa dan pikiran yang diasuh dengan disiplin sedemikian rupa akan dapat menerima informasi dari Alam Ghaib itu. Sebab itulah Nabi Muhammad SAW. ada bersabda,

“Tiap-tiap kanak-kanak itu dilahirkan dalam keadaan Islam (fitrah), maka kemudian ibu-bapanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi”

Tiap-tiap manusia dalam kesadaran batinnya yang dalam itu pernah mendengar
pertanyaan;
Bukankah aku ini Tuhanmu?”

dan mereka menjawab; “Ya”, sebenarnya” tetapi sesetengah hati adalah ibarat cermin yang penuh debu dan berkarat sehingga tidak memberi bayangan apa-apa di dalamnya.

Tetapi hati Ambiya dan Aulia

meskipun mereka itu manusia biasa yang mempunyai perasaan seperti kita, mereka sangat senang dan cepat menerima semua gambaran atau Ilham Ketuhanan Yang Maha Tinggi itu.

Bukanlah karena Ilmu yang didapati dari Ilham atau Wahyu atau Intuisi itu saja yang menyebabkan Ruh manusia itu dapat menduduki martabat pertama atau paling tinggi di kalangan makhluk, tetapi juga oleh karena kekuasaannya(Ruh). Sebagaimana Malaikat-malaikat menguasai atau memerintah unsur-unsur, maka begitu jugalah Ruh itu. Ia memerintah anggota-anggota tubuh. Ruh-ruh yang mencapai peringkat kekuasaan yang khusus bukan saja memerintah tubuh mereka sendiri tetapi juga tubuh-tubuh yang lain.

Jika mereka menginginkan orang sakit supaya sembuh, maka sembuhlah ia, atau orang yang sehat bisa disakitinya; atau jika mereka inginkan seseorang supaya datang kepada mereka, maka datanglah orang itu.

Oleh karena kerja-kerja Ruh yang kuat ada dua macam; yaitu baik dan jahat, maka perbuatan mereka itu pun dibagikan dua macam juga yaitu Mukjizat dan yang lagi satu Sihir.

Ruh-ruh yang kuat ini berbeda dari Ruh-ruh orang biasa dalam tiga hal:
Apa yang orang lain dapat lihat secara mimpi dalam tidur, mereka lihat
dalam jaga.
Orang lain hanya dapat menguasai tubuh mereka sendiri saja, mereka ini
dapat menguasai tubuh-tubuh selain diri mereka juga.
Orang lain mendapat Ilmu dengan belajar dan mengkaji bersungguh-
sungguh, mereka ini mendapat Ilmu itu secara Ilham atau Wahyu.

Bukanlah ini saja tanda yang membedakan mereka dari orang biasa. Ada lagi yang lain. Tetapi itulah saja yang kita ketahui. Sebagaimana juga kita ketahui yaitu Alloh itu saja yang mengenal DiriNya Yang Sebenar-benarNya, begitu jugalah hanya Nabi-nabi itu juga yang mengenal Hakikat Kenabian itu sebenarnya. Ini tidaklah mengherankan. Sedangkan dalam kehidupan sehari- harian ini pun kita mengalami kesulitan untuk menerangkan keindahan sesuatu Syair atau Puisi kepada orang yang tidak tahu dan tidak faham tentang Syair dan Puisi; atau keindahan warna pada orang buta.

Di samping ketidakmampuan, ada hal lain lagi yang menghalang seseorang itu mencapai Hakikat Keruhanian. Satu daripadanya ialah Ilmu yang diperolehi dari luar.

Sebagai ibarat, hati itu adalah sebuah telaga, dan lima indera ialah lima batang pipa air yang sentiasa mengalirkan air ke telaga itu. Untuk mengetahui isi telaga itu sebenarnya, pipa air itu hendaklah dihentikan mengalir ke dalam telaga itu untuk sementara waktu, dan sampah- sampah yang di bawa oleh pipa air itu hendaklah dibuang dari telaga itu. Demikianlah ibaratnya.

Sekiranya kita hendak mencapai Hakikat Keruhanian yang suci itu, maka kita hendaklah sementara waktu menepikan Ilmu yang diperolehi dari proses luar (yaitu yang datang dari luar seperti belajar, membaca dan sebagainya) di mana biasanya telah menjadi beku dan keras dan bersifat Prasangka (Doqmatic

Prejudice).
4

Di samping itu ada pula satu kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang yang pendek IlmuNya, yaitu setelah mereka mendengar percakapan orang-orang Sufi, mereka pun merendah-rendahkan taraf ilmu. Ini adalah ibarat seorang yang bukan ahli dalam bidang Ilmu Kimia mengatakan, “Kimia itu lebih baik dari emas!”, dan ia enggan menerima apabila emas diberikan kepadanya. Kimia lebih baik dari emas, tetapi ahli-ahli Kimia yang sebenar-benar pakar sangat sedikit bilangannya. Begitu jugalah ahli-ahli Sufi yang pakar sebenarnya amat sedikit bilangannya.

Orang yang hanya tahu sedikit saja berkenaan Kesufian adalah tidak lebih tinggi martabatnya dari orang-orang yang berpengetahuan. Begitu juga orang yang baru mencoba beberapa percobaan dalam bidang Kimia, janganlah hendak merendah- rendahkan orang yang kaya.

Orang-orang yang melihat berkenaan hal ini tentu akan melihat betapa kebahagian itu adalah sebenarnya berkaitan dengan Mengenal Alloh Subhanahuwa Taala. Tiap-tiap anggota kita ini suka dan tertarik dengan apa yang sebenarnya dia dirasakannya.

Misalnya :

Hawa nafsu suka dengan apa yang dikehendakinya.
Marah suka dengan membalas dendam.
Mata suka dengan benda yang indah.
Telinga suka mendengar musik yang merdu dan sebagainya.

Fungsi (tugas) Ruh manusia yang paling tinggi ialah Menyaksikan atau Melihat Hakikat, dan di sanalah ia mendapat ketertarikan dan kebahagiannya. Seorang itu amat gembira diberi jabatan Perdana Menteri, tetapi kegembiraan itu akan bertambah jika Raja berkawan baik dengannya dan menceritakan kepadanya rahasia-rahasia negeri.

Ahli Ilmu Falak (Astronom) dengan ilmunya dapat membuat peta-peta bintang dan perjalanan falaknya, akan merasa lebih tertarik pada ilmunya itu daripada pemain catur dengan ilmunya. Tidak ada yang lebih tinggi dari Alloh Subhanahuwa Taala.

Alangkah besarnya ketertarikan dan kebahagiaan yang didapati oleh
seseorang itu hasil dari Makrifat Alloh.
Barangsiapa yang sudah hilang keinginan untuk mencapai Ilmu yang sedemikian
tinggi itu,

maka orang itu adalah ibarat orang yang habis seleranya untuk memakan makanan yang baik-baik; atau pun seperti orang yang lebih suka memakan tanah daripada memakan roti. Semua selera tubuh kasar ini hilang apabila mati (bercerai nyawa dengan tubuh). Selera itu mati bersama tubuh kasar itu. Tetapi Ruh tidak mati dan ia tetap membawa apa juga Ilmu tentang Ketuhanan yang ada padanya, bahkan menambahkan Ilmu itu lagi.

Sebagian hal penting berkenaan Ilmu kita tentang Alloh adalah timbul dari kajian dan pemikiran kita tentang tubuh kita sendiri, yang membukakan kepada kita kekuatan,

kebijaksanaan
dan
Cinta
Tuhan
Yang

Menjadikan segalanya. KekuasaanNya menunjukkan betapa setitik air dijadikan kita seorang manusia yang cukup lengkap dan sempurna. KebijaksanaanNya ditunjukkan dengan betapa rumit dan sulitnya anggota-anggota tubuh kita dan saling persesuaian antara bagian-bagian anggota tubuh itu antara satu dengan yang lain. CintaNya ditunjukkan dengan KurniaNya kepada kita bukan saja anggota- anggota yang paling penting untuk hidup seperti jantung, hati, otak, tetapi juga anggota-anggota tubuh yang tidak paling penting seperti tangan, kaki, lidah dan mata.

Kemudian ditambah pula dengan perhiasan seperti hitam
rambut, merahnya bibir, bulu mata yang melentik dan sebagainya.

Maka sewajarnyalah manusia itu diibaratkan sebagai ” ALAM KECIL” dalam dirinya sendiri bentuk dan susunan tubuh itu hendak dikaji bukan saja oleh mereka yang hendak jadi dokter tetapi juga hendaklah dikaji oleh mereka yang ingin mencapai Makrifatulloh, sebagaimana juga mengkaji secara mendalam tentang susunan keindahan bahasa dalam Puisi yang agung akan membukakan kepada kita kebijaksanaan pengarangnya.

Bahwa Ilmu atau Mengenal Ruh itu memainkan peranan yang lebih penting untuk membawa kepada Makrifatulloh; lebih penting dari mengenal tubuh dan tugas- tugasnya.

Tubuh ini ibarat kuda tunggangan dan Ruh itu ibarat Penunggangnya. Tubuh itu dijadikan untuk Ruh, dan Ruh itu untuk tubuh. Jika seseorang itu tidak tahu dirinya yang mana adalah yang paling dekat dengan Dia, maka apakah gunanya ia mengenal yang lain? Ibarat pengemis, yang dirinya sendiri pun susah hendak makan berkata pula ia akan memberi makan kepada penduduk sebuah kampung.

Dalam bab ini kita akan coba sedikit-sebanyak membicarakan keagungan Ruh
manusia.

Orang yang tidak peduli kepada jiwa atau RuhNya dan membiarkan Ruh atau jiwa itu berkarat dan gelap, maka rugilah ia di dunia dan di akhirat juga.

Keagungan seseorang manusia itu sebenarnya terletak pada usaha untuk menuju Yang Kekal Abadi. Jika tidak, dalam dunia fana ini, manusia itulah yang paling lemah dari segala makhluk karena tunduk kepada kepada lapar, dahaga, panas, sejuk dan dukacita.

Hal yang paling disukai biasanya paling bahaya kepadanya, dan hal yang
memberi faedah hanya dapat diperolehi melalui usaha dan susah payah.

Berkenaan dengan Aqalnya pula, kesalahan yang sedikit saja pada otak bisa menyebabkan ia gila dan rusak. Berkenaan kekuasaan pula, gigitan nyamuk saja telah cukup menyebabkan ia resah gelisah dan tidak dapat tidur. Berkenaan dengan perasaan pula, dia rasa dukacita hanya dengan kehilangan beberapa sen uang. Berkenaan dengan kecantikan pula, dia tidak lebih dari hal yang kotor dibalut dengan kulit yang licin lunak. Tanpa dibasuh selalu, ia menjadi tidak menarik lagi.

Pada hakikatnya, manusia itu dalam dunia ini adalah sangat lemah dan hina.

Hanya di akhirat kelak manusia itu akan bernilai dan berharga. Maka dengan cara “Kimia Kebahagiaan” dia meningkat naik dari peringkat binatang kepada peringkat Malaikat. Kalau tidak, peringkat lebih hina dan rendah dari binatang yang akan hancur dan akan jadi tanah. Maka perlulah bagi manusia di samping sadar tentang ketinggian martabatnya dari semua makhluk, sadarlah hendaknya tentang lemah hinanya, karena itu pun adalah satu”anak kunci” membuka pintu Mengenal Alloh (Makrifatulloh).

MENGENAL ALLOH SWT
Satu Hadis Nabi Muhammad SAW. yang masyhur ialah;
“Siapa yang mengenal dirinya, mengenal ia akan TuhanNya”

Ini berarti dengan mematuhi dan memikirkan tentang dirinya dan sifat-sifatnya,
manusia itu bisa sampai mengenal Alloh. Tetapi oleh karena banyak juga orang
yang memikirkan tentang dirinya tetapi tidak dapat mengenal Tuhan, maka
tentulah ada cara-caranya yang khusus bagi mengenal ini.

Sebenarnya ada dua cara untuk mencapai pengetahuan atau pengenalan ini. Salah
satunya sangat sulit dan sukar difahami oleh orang-orang biasa, maka cara yang
ini tidak usahlah kita terangkan di sini. Yang satu cara lagi adalah seperti berikut:

Apabila seseorang memikirkan dirinya, dia tahu bahwa ada suatu ketika ia tidak
berwujud, seperti tersebut dalam Al-Quran:
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu sesuatu yang dapat
disebut?” (Al Insan:1)

Selanjutnya ia juga tahu bahwa ia dijadikan diri setitik air yang tidak ada akal,
pendengar, penglihatan, kepala, tangan, kaki dan sebagainya, dari sini teranglah
bahwa walau bagaimanapun seseorang itu mencapai taraf kesempurnaan, tidaklah
dapat ia membuat dirinya sendiri meeskipun hanya sehelai rambut.

Kemudian pula jika ia setitik air, alangkah lemahnya ia? Demikianlah seperti yang
kita lihat di bab pertama dulu, didapatinya dalam dirinya kekuasaan,
kebijaksanaan dan kecintaannya terhadap Alloh terbayang dalam bentuk yang
kecil. Jika semua manusia dalam dunia ini berkumpul dan mereka tidak mati,
niscaya mereka tidak dapat mengubah dan memperbaiki bentuk walau satu bagian
dari tubuhnya itu.

Misalnya, dalam penggunaan gigi depan dan gigi samping untuk menghancurkan
makanan, penggunaan lidah, air liur, tengkuk, kerongkong, kita dapatinya
penciptaan itu tidak dapat diperbaiki lagi. Begitu juga, fikirkan pula tangan dan

jari kita. Jari ada lima dan tidak pula sama panjang, empat daripada jari itu
mempunyai tiga persendian, dan ibu jari hanya ada dua persendian, dan lihat
pula bagaimana ia bisa digunakan untuk memegang, mencincang, memukul
dan sebagainya. Jelas sekali manusia tidak akan dapat berbuat demikian,
meski hendak menambah atau mengurangkan jumlah jari itu dan susunannya .

Lihat pula makanan, tempat tinggal kita dan sebagainya. Semuanya cukup
dikurniakan oleh Alloh yang maha kaya. Tahulah kita bahwa rahmat atau Kasih
Sayang Alloh itu sama dengan Kekuasaan dan Kebijaksanaan-Nya, seperti firman
Alloh Subhanahuwa Taala.

“RahmatKu itu lebih besar dari kemurkaanKu”
Dan sabda Nabi SAW:
“Alloh itu sayang kepada hamba-hambanya lebih dari sayang ibu kepada
anaknya”

Demikianlah, dari makhluk yang dijadikanNya, manusia bisa tahu tentang
wujud Alloh, dari keajaiban tubuhnya, ia dapat tahu tentang Kekuasaan dan
Kebijaksanaanya Alloh; dan dari kurnia rezeki Tuhan yang tidak terbatas itu,
nampaklah Cinta Alloh kepada hambaNya.

Dengan cara ini, mengenal diri sendiri itu menjadi anak kunci kepada
pintu untuk mengenal Alloh Subhanawa Taala.

Sifat-sifat manusia itu adalah bayangan Sifat-sifat Alloh. Begitu juga cara wujud
ruh manusia itu memberi kita sedikit pandangan tentang wujud Alloh, yaitu
Alloh dan ruh itu tidak kelihatan, tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan,
tidak tunduk kepada ruang dan waktu, diluar kemampuan kuantitas (jumlah) dan
kualitas, dan tidak bisa diperikan dengan bentuk, warna atau ukuran. Orang
merasa sulit hendak membentuk satu konsep berkenaan hakikat-hakikat ini
karena ia tidak termasuk dalam bidang kualitas dan kuantitas, dan sebagainya,
tetapi coba perhatikan betapa susah dan payahnya memberi konsep tentang
perasaan kita sehari-hari seperti marah, suka, cinta dan sebagainya.

Semua itu adalah konsep pikiran atau tanggapan khayalan, dan tidak dapat
dikenali oleh indera. kualiti, kuantiti dan sebagainya dan itu adalah konsep
indera (tanggapan pancaindera). Sebagaimana telinga kita tidak dapat megenal
warna, dan mata kita tidak dapat mengenal bunyi, maka begitu jugalah
mengenal Ruh dan Alloh itu bukanlah dengan inderanya.

Alloh itu adalah Pemerintah alam semesta raya ini. Dia tidak tunduk kepada
ruang dan waktu, kuantiti dan kualiti, dan menguasai segala makhluknya.
Begitu juga ruh itu memerintah tubuh dan anggotanya. Ia tidak bisa dilihat,
tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan dan tidak tunduk kepada tempat
tertentu.

Karena bagaimana mungkin sesuatu yang tidak bisa dibagi-bagikan itu
diletakan ke dalam sesuatu yang bisa dibagi atau dipecah?
6
Dari keterangan yang kita baca diatas itu, dapatilah kita lihat bagaimana benarnya
sabda Nabi SAW.:
” Alloh jadikan manusia menurut rupanya”.

Setelah kita mengenal Zat dan Sifat Alloh hasil dari bertafakur kita tentang zat dan
sifat Ruh, maka sampailah pengenalan kita kepada cara-cara kerja dan
pemerintahan Alloh Taala dan bagaimana ia mewakilkan kuasa-kuasaNya kepada

malaikat-malaikat, dan lain-lain.
Dengan cara bertafakur tentang bagaimana diri kita memerintah alam kecil
kita sendiri.
Kita ambil satu contoh:

Katakanlah seorang manusia hendak menulis nama Alloh. Mula-mulanya kehendak
atau keinginan itu terkandung dalam hatinya. Kemudian dibawa ke otak oleh daya
ruhani. Maka bentuk perkataan “Alloh” itu terdapat dalam khayalan atau pikiran
otak itu. Selepas itu ia mengembara melalui saluran urat saraf, lalu menggerakkan
jari dan jari itu mengerakkan pena. Maka tertulislah nama “Alloh” atas kertas,
serupa seperti yang ada didalam otak penulis itu.

Begitu juga apabila Alloh Subahanahuwa Taala hendak menjadikan sesuatu hal, Ia
mula-mulanya nampak dalam peringkat keruhanian yang disebut didalam Quran
sebagai “Al-‘Arasy”. Dari situ ia turun dengan urusan Keruhanian ke peringkat yang
di bawahnya yang digelar “Al-Kursi”. Kemudian bentuknya nampak dalam “Al-Luh
Al-Mahfuz”. Dari situ dengan perantaraaan tenaga-tenaga “Malaikat” terbentuklah
hal itu dan kelihatanlah di atas bumi ini dalam bentuk tumbuh-tumbuhan, pokok-
pokok dan binatang, yang mewakilkan atau menggambarkan Iradat dan Ilmu Alloh.

Sebagaimana juga huruf-huruf yang tertulis, yang menggambarkan keinginan dan kemauan yang terbit dan terkandung dalam hati, dan bentuk itu dalam dalam otak penulis tadi.

Tidak ada orang yang tahu Hal Raja melainkan Raja itu sendiri. Alloh telah
memberi kita Raja dalam bentuk yang kecil yang memerintah kerajaan
yang kecil. Dan ini adalah satu salinan kecil Diri (Zat)Nya dan
KerajaanNya. Dalam kerajaan kecil pada manusia itu, Arash itu ialah
Ruhnya; ketua segala Malaikat itu ialah hatinya, Kursi itu otaknya, Luh
Mahfuz itu ruang khazanah khayalan atau pikirannya. Ruh itu tidak
bertempat dan tidak bisa dibagikan dan ia memerintah tubuhnya
sebagaimana Alloh memerintah Alam Semester Raya ini. Pendeknya, tiap-
tiap orang manusia itu diamanahkan dengan satu kerajaan kecil dan
diperintahkan supaya jangan lengah dan lalai mengatur kerajaan itu.

Berkenaan dengan mengenal ciptaan Alloh Subhanahuwa Taala, ada banyak
derajat pengetahuan. Ahli Ilmu Alam yang biasa adalah ibarat semut yang
merangkak atas sekeping kertas dan memperhatikan huruf-huruf hitam terbentang
di atas kertas itu dan merujukkan sebab kepada pena atau qalam itu saja.

Ahli Ilmu Falak adalah ibarat semut yang luas sedikit pandangannya dan nampak
jari-jari tangan yang menggerakkan pena itu, yaitu ia tahu bahwa unsur-unsur
itu adalah daya bintang-bintang, tetapi dia tidak tahu bahwa bintang itu adalah
di bawah kuasa Malaikat.

Oleh karena berbeda-bedanya derajat pandangan manusia itu, maka tentulah
timbul perbedaan hasil atau kesan. Mereka yang tidak memandang lebih jauh
dari fenomena alam nyata ini adalah ibarat orang yang mengganggap hamba abdi
yang paling rendah itu sebagai raja.

Walau bagaimanapun, adalah salah besar menganggap hamba itu
tuannya.

Karena ada perbedaan ini, maka pertengkaran akan terus terjadi. Ini adalah
ibarat orang buta yang hendak mengenal gajah. Seseorang memegang kaki
gajah itu lalu dikatakannya gajah itu seperti tiang. Seorang lain memegang
gadingnya lalu katanya gajah itu seperti kayu bulat yang keras. Seorang lagi
memegang telinganya lalu katanya gajah itu macam kipas.

Tiap-tiap seorang mengganggap bagian-bagian itu sebagai keseluruhan. Dengan
itu, ahli ilmu alam dan ahli ilmu Falak menyanggah hukum-hukum yang mereka
dapat dari ahli-ahli hukum. Kesalahan dan sangkaan seperti itu terjadi juga
kepada Nabi Ibrahim seperti yang tersebut dalam Al-Quran, Nabi Ibrahim
menghadap kepada bintang, bulan dan matahari untuk disembah. Lama
kelamaan beliau sadar siapa yang menjadikan semua-benda-benda itu, lalu bisa
berkata,

“Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”

Kita selalu mendengar orang merujuk kepada sebab yang kedua bukan kepada
sebab yang pertama dalam hal apa yang digelar sakit. Misalnya; jika seseorang
itu tidak lagi cenderung kepada keduniaan, segala keindahan tidak lagi
dipedulikannya, dan tidak peduli apa pun, maka dokter mengatakan,”Ini

adalah penyakit gundah gulana, dan ia perlu obat ini A”
Ahli fisika akan berkata “Ini adalah kekeringan otak yang disebabkan oleh
cuaca panas dan tidak dapat dilegakan kecuali udara menjadi lembab.”
Ahli nujum akan mengatakan bahwa itu adalah pengaruh bintang-bintang.
“Hanya itulah kebijaksanaanya mereka” Kata Al-Quran, tidaklah mereka

tahu bahwa sebenarnya apa yang terjadi ialah: Alloh Subahana Wataala memberi
kebajikan orang yang sakit itu dan dengan itu memerintahkan hamba-hambanya
seperti bintang-bintang atau unsur-unsur, mengeluarkan keadaan seperti itu
kepada orang itu agar ia berpaling dari dunia ini mengadap kepada Tuhan yang
menjadikannya.

Pengetahuan tentang hakikat ini adalah sebuah mutiara yang amat
bernilai dari lautan ilmu yang berupa Ilham; dan ilmu-ilmu yang lain itu7
jika dibandingkan dengan Ilmu Ilham ini adalah ibarat pulau-pulau dalam
lautan Ilmu Ilham itu.

Dokter, Ahli Fisika dan Ahli Nujum itu memang betul dalam bidang ilmu mereka masing-masing. Tetapi mereka tidak tahu bahwa penyakit itu bisa dikatakan sebagai “Tali Cinta” , yang dengan tali itu Alloh menarik AuliaNya kepadaNya. Berkenaan ini Alloh ada berfirman yang bermaksud;

“Aku sakit tetapi engkau tidak melawat Aku”.

Sakit itu sendiri adalah satu bentuk pengalaman yang dengannya manusia itu bisa
mencapai pengetahuan tentang Alloh sebagaimana firman Alloh melalui mulut
Rasul-rasulNya,

“Sakit itu sendiri adalah hambaKu dan disertakan kepada orang-orang
pilihanKu”.
Dengan ulasan-ulasan yang terdahulu, dapatlah kita meninjau lebih mendalam lagi
maksud kata-kata yang selalu diucapkan oleh orang-orang yang beriman yaitu,

“Maha Suci Alloh” (SubhanAlloh)
“Puji-pujian Bagi Alloh (Alhamdulillah)
“Tiada Tuhan Melainkan Alloh (La ilaha illAlloh)
“Alloh Maha Besar” (Allohu Akbar).

Berkenaan dengan “Allohu Akbar” itu bukanlah bermaksud Alloh itu lebih besar
(secara fisik) dari makhluk, karena makhluk itu adalah penampakan-Nya
sebagaimana cahaya memperlihatkan matahari. Tidaklah bisa dikatakan matahari
itu lebih besar daripada cahayanya. Ia bermaksud yaitu Kebesaran Alloh itu tidak
dapat diukur dan melampaui jangkauan kesadaran, dan kita hanya bisa
membentuk gambaran yang tidak sempurna dan tidak nyata berkenaanNya.

Jika seorang anak-anak bertanya kepada kita untuk menerangkan enaknya
mendapat pangkat yang tinggi, kita hanya dapat mengatakan seperti perasaan
anak-anak itu tatkala sedang bermain bola, meskipun pada hakikat kedua-dua itu
tidak ada persamaan langsung, kecuali hanya kedua-dua hal itu termasuk dalam
jenis kesenangan.

Oleh yang demikian, kata-kata “Allohu Akbar” itu berarti Kebesaran itu
melampaui semua kuasa pengenalan dan pengetahuan kita. Tidak
sempurna pengenalan kita berkenaan Alloh itu, bukan dengan pikiran saja
tetapi adalah disertai oleh ibadat dan pengabadian kita.

Apabila seorang itu mati, maka ia berhubungan dengan Alloh saja. Jika kita hidup
dengan orang lain, kebahagiaan kita bergantung kepada derajat kemesraan kita
terhadap orang itu.

Cinta itu adalah benih kebahagiaan, dan Cinta kepada Alloh itu dituju dan
dibangun melalui ibadat.

Ibadat dan sentiasa mengenang Alloh itu memerlukan kita supaya bersikap
sederhana dan mengekang kehendak-kehendak tubuh. Ini bukanlah berarti
semua kehendak tubuh itu dihapuskan; karena itu akan menyebabkan
punahnya manusia. Apa yang diperlukan ialah membatasi kehendak-kehendak
tubuh itu. Oleh karena seseorang itu bukanlah Hakim yang paling bijak untuk
mengadili dirinya sendiri tentang batas itu, maka ia lebih baik merundingi
pemimpin-pemimpin keruhanian dalam hal ini, dan hukum-hukum yang mereka
bawa melalui Wahyu Ilahi menentukan batas yang harus diperhatikan dalam hal
ini.

…., Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah
orang-orang yang lalim. (Al-Baqarah; 229).

Walaupun Al-Qur’an telah memberi keterangan yang nyata, masih ada juga
orang yang melanggar batas karena kejahilan mereka tentang Alloh dan kejahilan
ini adalah karena beberapa sebab,

Pertama, ada golongan manusia yang terus mencari Alloh melalui pikiran, lalu

mereka membuat kesimpulan dengan mengatakan tidak ada Tuhan dan alam ini
terjadi dengan sendirinya atau wujudnya tanpa permulaan. Mereka ini seperti
orang yang melihat surat yang tertulis dengan indahnya, dan mereka
mengatakan surat itu sedia tertulis tanpa penulis atau ada begitu saja.Orang
yang seperti ini telah jauh tersesat dan tidak berguna berhujah dan bertengkar
dengan mereka. Setengah daripada orang-orang seperti ini adalah Ahli Fizika
dan Ahli Bintang yang telah kita sebutkan di atas tadi.

Kedua, orang karena kejahilan tentang keadaan sebenarnya Ruh itu. Mereka

menyangkal adanya hidup di Akhirat dan menyangkal manusia itu diadili di sana
. Mereka anggap diri mereka itu satu taraf dengan binatang dan tumbuh-
tumbuhan dan akan hancur begitu saja.

Ketiga, orang yang percaya dengan Alloh dan Hari Akhirat, tetapi kepercayaan
atau Iman mereka itu sangat lemah. Mereka berkata kepada diri mereka sendiri,
Pikiran mereka ini seperti orang sakit yang disuruh makan obat, tetapi ia
berkata,
“Apa untung atau ruginya dokter itu jika aku makan obat atau tidak
makan obat?”.

Memang tidak terjadi apa-apa kepada dokter itu tetapi orang itulah yang akan
bertambah sakit karena bodohnya. Tubuh yang sakit berakhir dengan mati.
Maka Ruh atau Jiwa yang sakit berakhir dengan kesusahan dan siksaan di akhirat
nanti, seperti firman Alloh Taala dalam Al-Qur’an yang bermaksud :

Makin tinggi hal pengetahuan kita itu, maka makin bertambah menarik dan sukalah
kita mengusahakan hal itu. Misalnya kita lebih berminat untuk mengetahui rahasia
Sultan dan rahasia menteri. Dengan demikian, oleh karena Alloh itu adalah objek
atau hal pengetahuan yang paling tinggi, maka mengenal atau mengetahui Alloh
itu mestilah memberi kebahagiaan dan kelezatan lebih daripada yang lain-lain.
Orang yang mengetahui dan mengenal Alloh walaupun dalam dunia ini. seolah-
olah di dalam syurga, buah-buahan bebas untuk dipetik, dalam lebarnya tidak
disempitkan oleh penghuninya yang ramai itu.
Firman Alloh SWT :

” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada
surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-
orang yang bertakwa ” (Al Imran:133)

Tetapi kenikmatan ilmu atau pengetahuan masih tidak menyamai atau menyerupai
kenikmatan pandangan sebagaimana ketertarikan kita dalam memikirkan mereka
yang bercinta adalah lebih rendah daripada ketertarikan yang diberi oleh
memandangnya dengan benar.

Terpenjaranya kita dalam tubuh kita dari tanah dan air dan terbelenggu kita dalam
hal-hal indera (pancaindera) menjadikan hijab yang melindungi kita daripada
memandang Alloh , meskipun tidak menghalang pencapaian kita kepada
mengetahui dan mengenalNya. karena inilah Alloh berfirman kepada Nabi Musa di
Gunung Sinai,

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang
telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya,
berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku
agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-
kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia
tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”.
Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya
gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa
sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada
Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Al Araaf:143)

Hakikat hal ini adalah sebagaimana benih manusia itu menjadi manusia,
dan biji tamar menjadi pohon tamar, begitu jugalah mengenal Alloh yang
diperoleh di dunia ini akan bertukar menjadi “Memandang Alloh” di
akhirat kelak, dan mereka yang tidak mempelajari pengetahuan itu tidak
akan mendapat pandangan itu. Pandangan ini tidak akan dibagi-bagikan
sama rata kepada mereka yang tahu tetapi “konsep pemahaman” mereka
tentangnya akan berbeda-beda sebagaimana ilmu mereka.

Alloh itu Satu tetapi ia kelihatan dengan berbagai-bagai cara, sebagaimana satu
benda itu terbayang dalam berbagai cara dalam berbagai cermin. Ada yang
lurus, ada yang bengkok, ada yang terang dan ada yang gelap. Sesuatu
cermin itu mungkin terlalu bengkok dan ini menjadikan bentuk-bentuk yang
cantik kelihatan buruk dalam cermin itu. Seseorang manusia itu mungkin
membawa ke akhirat hati yang gelap dan bengkok, dan dengan itu pandangan
yang menjadi puncak kedamaian dan kebahagiaan kepada orang lain, akan
menjadi sumber kesengsaraan dan kedukaan kepadanya.

Orang yang Menyintai Alloh sepenuh hati dan Cintanya kepada Alloh melebihi
Cintanya kepada yang lain akan memperolehi lebih banyak kebahagiaan daripada
pandangan melebihi daripada mereka yang dalam hatinya tidak ada pandangan
ini. Umpama dua orang yang kekuatan matanya sama saja memandang kepada
wajah yang cantik. Orang yang telah ada cintanya kepada orang yang memiliki
wajah itu akan merasa tertarik dan bahagia memandang wajah itu melebihi dari
orang yang tidak ada cintanya kepada orang yang mempunyai wajah itu.

Untuk kebahagiaan yang sempurna, ilmu saja tidak tidaklah cukup.
Hendaklah disertakan dengan Cinta. Cinta kepada Alloh itu tidak akan
tercapai selagi hati itu tidak dibersihkan daripada cinta kepada dunia.
Pembersihan ini dapat dilakukan dengan menahan diri dari hawa nafsu
yang rendah dan bersikap zuhud.

Semasa dalam dunia ini, keadaan seseorang itu terhadap “Memandang Alloh”
adalah ibarat orang yang cinta yang melihat muka orang yang yang dicintai
dalam waktu senja kala dan pakaiannya penuh dengan penyengat dan
kalajengking yang senatiasa menggigitnya. Tetapi sekiranya matahari terbit dan
menunjukkan muka yang dicintai dengan segala keindahannya, dan penyengat
serta kala itu telah pergi darinya, maka kebahagiaan orang yang cinta itu adalah
seperti hamba Alloh yang terlepas dari gelap senja dan azab cobaan di dunia ini,

lalu melihat dia tanpa hijab lagi.
Abu Sulaiman berkata;
26

“Siapa yang sibuk dengan dirinya sendiri saja di dunia ini, akan sibuk juga
dengan dirinya di akhirat kelak, dan siapa yang sibuk dengan Alloh di
dunia ini akan sibuk juga dengan Alloh di akhirat kelak”.

Yahya bin Mu’adz menceritakan;
“Saya lihat Abu Yazid Bustomin sembahyang sepanjang malam. apabila beliau telah
habis sembahyang, beliau berdoa dan berkata :

“Oh Tuhan!!! Setengah dari hambaMu meminta padaMu kuasa untuk
membuat sesuatu yang luar biasa (karamat) seperti berjalan di atas air,
terbang di udara, tetapi aku tidak meminta itu; ada pula yang meminta
harta karun, tetapi aku tidak meminta itu,

kemudian ia memalingkan mukanya dan setelah dilihatnya saya, ia berkata;
“Kamu di situ Yahya?” Saya menjawab; “Ya!” Beliau bertanya lagi; “Sejak
kapan?” Saya menjawab; “Telah lama saya di sini” Kemudian saya bertanya dan
beliau menceritakan kepada saya setengah daripada pengalaman keruhaniannya.

“Saya akan menceritakan” Jawab beliau. “Apa yang boleh saya ceritakan
kepadamu,Alloh Subhahahuwa Taala menunjukkan aku kerajaanNya dari

yang paling tinggi hingga ke paling rendah. DiangkatNya saya melampaui Arash dan Kursi dan tujuh petala langitnya, kemudian Ia (Alloh) berkata; “Pintalah kepadaKu apa saja yang engkau kehendaki”.

Saya menjawab; “Ya Alloh!!! tidak akan saya minta apa pun melainkan
Engkau”.
JawabNya (Alloh) : “Sesungguhnya engkau hambaKu yang sebenar
benarnya”.
Pada suatu ketika pula Abu Yazid berkata:

“Sekiranya Alloh mengkaruniakan engkau kemiripan denganNya seperti
Ibrahim, kekuasaan Sholat Musa, keruhanian ‘Isa, namun wajahmu
hadapkanlah kepada Dia saja karena ia ada harta yang melampaui segala-
galanya itu”

Suatu hari seorang sahabatnya berkata kepada beliau; “Selama tiga puluh tahun
saya puasa di siang hari dan sembahyang di malam hari tetapi saya tidak dapati
kenikmatan keruhanian yang engkau katakan itu”.

Abu Yazid menjawab; “Jika engkau puasa dan sembahyang selama tiga ratus tahun
pun, engkau tidak akan mendapatkannya”.
Sahabatnnya berkata; “Bagaimanakah itu?”

Kata Abu Yazid; “obatnya ada tetapi engkau tidak akan sanggup menelannya
obat itu”. Tetapi oleh karena sahabatnya itu bersungguh-sungguh benar
meminta supaya diceritakan, Abu Yazid pun berkata;

“Pergilah kepada tukang gunting dan cukurlah janggutmu itu; buanglah
pakaianmu itu kecuali seluar dalam saja. Ambil satu kampit penuh yang
berisi “Siapa yang mau menempeleng kuduk leherku dia akan mendapat
buah ini” Kemudian dalam keadaan ini pergilah kepada Kadi dan ahli
syariat dan berkata; “Berkatilah Ruhku”.

Kata sahabatnya; “Tidak sanggup saya berbuat demikian, berilah saya cara
yang lain”.
Abu Yazid pun berkata;”Inilah saja caranya, tetapi seperti yang telah
saya katakan kamu ini tidak dapat diobat lagi”.

Sebab Abu Yazid berkata demikian kepada orang itu ialah karena orang
itu sebenarnya pencari pangkat dan kedudukan. Bercita-cita hendak
pangkat dan kedudukan seperti bersikap sombong dan bangga adalah
penyakit yang hanya dapat diobat dengan cara yang demikian itu.

Alloh berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong
(agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada
pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi
penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-
pengikut yang setia itu berkata: “Kami lah penolong-penolong agama
Allah”, lalu segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan (yang
lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang
beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-
orang yang menang. (Ash Shaff:14)

Apabila orang bertanya kepada Nabi ‘Isa; “Apakah kerja yang paling tinggi sekali
derajatnya?” Beliau menjawab;”Mencintai Alloh dan tunduk kepadaNya”.27
Suatu ketika orang bertanya kepada Wali Alloh bernama Rabi’atul Adawiyah sama
ada beliau cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau menjawab; ” Cinta kepada
Alloh menghalang aku cinta kepada makhluk”.
Ibrahim bin Adham dalam doanya berkata;”Ya Alloh! pada mataku syurga itu

sendiri lebih kecil dari unggas jika dibandingkan dengan Cintaku
terhadapMu dan kenikmatan mengingatiMu yang Engkau telah kurniakan
kepadaku”.

Siapa yang menganggap ada kemungkinan menikmati kebahagiaan di akhirat
tanpa mencintai Alloh adalah orang yang telah jauh sesat anggapannya, karena
segala-galanya di akhirat itu adalah kembali kepada Alloh dan Alloh itulah alamat
yang dituju dan dicapai setelah melalui halangan yang tidak terhingga banyaknya.
Nikmat memandang Alloh itu adalah kebahagiaan. Jika seseorang itu tidak suka
kepada Alloh di sini, maka di sana pun ia tidak suka juga kepada Alloh. Jika sedikit
saja sukanya kepada Alloh di sini, maka sedikit jugalah sukanya kepada Alloh di
sana . Pendeknya, kebahagiaan kita di akhirat adalah tergantung pada kadar
Cintanya kita kepada Alloh di dunia ini.

Sebaliknya jika dalam hati manusia itu ada tumbuh cinta kepada apa saja yang
berlawanan dengan Alloh, maka keadaan hidup di akhirat sana akan berlainan dan
ganjil sekali kepadanya dan dengan ini apa saja yang mendatangkan kebahagiaan
kepada orang lain, akan mendatangkan ‘azab sengsara kepadanya. Mudah-
mudahan Alloh lindungi kita dari terjadi sedemikian itu.

Ini bolehlah kita gambarkan dengan misalnya seperti berikut :

Seorang pengangkut sampah pergi ke kedai yang menjual minyak wangi. Apabila
beliau membawa bau-bauan yang harum wangi itu, ia pun jatuh dan tidak sadar
diri. Orang pun datang hendak memberi pertolongan kepadanya. Air dipercikkan
kemukanya dan dihidungnya diletakkan kasturi. Tetapi beliau bertambah parah.
Akhirnya datanglah seorang pengangkut sampah juga, lalu diletakkan sedikit
sampah kotor di bawah hidung orang yang pingsan itu. Dengan segera orang itu
pun sadar semula sambil berseru dengan rasa puas hati, “Wah! Inilah sebenarnya
wangi!”

Demikian jugalah, ahli dunia tidak akan menjumpai lagi karat dan kotor dunia ini
diakhirat. Kenikmatan keruhaniah alam sana berlainan sekali dan tidak sesuai
dengan kehendaknya. Maka ini menjadikannya bertambah parah dan sengsara
lagi. karena alam sana itu adalah alam ruhaniah dan penzhohiran Jamal
(keindahan) Alloh Subhanahuwa Taala. Berbahagialah mereka yang ingin mencapai
kebahagiaan di sana itu dan menyesuaikan dirinya dengan alam itu. Semua sikap
zahud, menahan diri ibadah, menuntut ilmu adalah bertujuan untuk mencapai
penyesuaian itu dan penyesuaian itu adalah cintanya. Inilah maksud Al-Quran:

Makin tinggi hal pengetahuan kita itu, maka makin bertambah menarik dan sukalah
kita mengusahakan hal itu. Misalnya kita lebih berminat untuk mengetahui rahasia
Sultan dan rahasia menteri. Dengan demikian, oleh karena Alloh itu adalah objek
atau hal pengetahuan yang paling tinggi, maka mengenal atau mengetahui Alloh
itu mestilah memberi kebahagiaan dan kelezatan lebih daripada yang lain-lain.
Orang yang mengetahui dan mengenal Alloh walaupun dalam dunia ini. seolah-
olah di dalam syurga, buah-buahan bebas untuk dipetik, dalam lebarnya tidak
disempitkan oleh penghuninya yang ramai itu.
Firman Alloh SWT :

” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada
surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-
orang yang bertakwa ” (Al Imran:133)

Tetapi kenikmatan ilmu atau pengetahuan masih tidak menyamai atau menyerupai
kenikmatan pandangan sebagaimana ketertarikan kita dalam memikirkan mereka
yang bercinta adalah lebih rendah daripada ketertarikan yang diberi oleh
memandangnya dengan benar.

Terpenjaranya kita dalam tubuh kita dari tanah dan air dan terbelenggu kita dalam
hal-hal indera (pancaindera) menjadikan hijab yang melindungi kita daripada
memandang Alloh , meskipun tidak menghalang pencapaian kita kepada
mengetahui dan mengenalNya. karena inilah Alloh berfirman kepada Nabi Musa di
Gunung Sinai,

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang
telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya,
berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku
agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-
kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia
tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”.
Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya
gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa
sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada
Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Al Araaf:143)

Hakikat hal ini adalah sebagaimana benih manusia itu menjadi manusia,
dan biji tamar menjadi pohon tamar, begitu jugalah mengenal Alloh yang
diperoleh di dunia ini akan bertukar menjadi “Memandang Alloh” di
akhirat kelak, dan mereka yang tidak mempelajari pengetahuan itu tidak
akan mendapat pandangan itu. Pandangan ini tidak akan dibagi-bagikan
sama rata kepada mereka yang tahu tetapi “konsep pemahaman” mereka
tentangnya akan berbeda-beda sebagaimana ilmu mereka.

Alloh itu Satu tetapi ia kelihatan dengan berbagai-bagai cara, sebagaimana satu
benda itu terbayang dalam berbagai cara dalam berbagai cermin. Ada yang
lurus, ada yang bengkok, ada yang terang dan ada yang gelap. Sesuatu
cermin itu mungkin terlalu bengkok dan ini menjadikan bentuk-bentuk yang
cantik kelihatan buruk dalam cermin itu. Seseorang manusia itu mungkin
membawa ke akhirat hati yang gelap dan bengkok, dan dengan itu pandangan
yang menjadi puncak kedamaian dan kebahagiaan kepada orang lain, akan
menjadi sumber kesengsaraan dan kedukaan kepadanya.

Orang yang Menyintai Alloh sepenuh hati dan Cintanya kepada Alloh melebihi
Cintanya kepada yang lain akan memperolehi lebih banyak kebahagiaan daripada
pandangan melebihi daripada mereka yang dalam hatinya tidak ada pandangan
ini. Umpama dua orang yang kekuatan matanya sama saja memandang kepada
wajah yang cantik. Orang yang telah ada cintanya kepada orang yang memiliki
wajah itu akan merasa tertarik dan bahagia memandang wajah itu melebihi dari
orang yang tidak ada cintanya kepada orang yang mempunyai wajah itu.

Untuk kebahagiaan yang sempurna, ilmu saja tidak tidaklah cukup.
Hendaklah disertakan dengan Cinta. Cinta kepada Alloh itu tidak akan
tercapai selagi hati itu tidak dibersihkan daripada cinta kepada dunia.
Pembersihan ini dapat dilakukan dengan menahan diri dari hawa nafsu
yang rendah dan bersikap zuhud.

Semasa dalam dunia ini, keadaan seseorang itu terhadap “Memandang Alloh”
adalah ibarat orang yang cinta yang melihat muka orang yang yang dicintai
dalam waktu senja kala dan pakaiannya penuh dengan penyengat dan
kalajengking yang senatiasa menggigitnya. Tetapi sekiranya matahari terbit dan
menunjukkan muka yang dicintai dengan segala keindahannya, dan penyengat
serta kala itu telah pergi darinya, maka kebahagiaan orang yang cinta itu adalah
seperti hamba Alloh yang terlepas dari gelap senja dan azab cobaan di dunia ini,

lalu melihat dia tanpa hijab lagi.
Abu Sulaiman berkata;
26

“Siapa yang sibuk dengan dirinya sendiri saja di dunia ini, akan sibuk juga
dengan dirinya di akhirat kelak, dan siapa yang sibuk dengan Alloh di
dunia ini akan sibuk juga dengan Alloh di akhirat kelak”.

Yahya bin Mu’adz menceritakan;
“Saya lihat Abu Yazid Bustomin sembahyang sepanjang malam. apabila beliau telah
habis sembahyang, beliau berdoa dan berkata :

“Oh Tuhan!!! Setengah dari hambaMu meminta padaMu kuasa untuk
membuat sesuatu yang luar biasa (karamat) seperti berjalan di atas air,
terbang di udara, tetapi aku tidak meminta itu; ada pula yang meminta
harta karun, tetapi aku tidak meminta itu,

kemudian ia memalingkan mukanya dan setelah dilihatnya saya, ia berkata;
“Kamu di situ Yahya?” Saya menjawab; “Ya!” Beliau bertanya lagi; “Sejak
kapan?” Saya menjawab; “Telah lama saya di sini” Kemudian saya bertanya dan
beliau menceritakan kepada saya setengah daripada pengalaman keruhaniannya.

“Saya akan menceritakan” Jawab beliau. “Apa yang boleh saya ceritakan
kepadamu,Alloh Subhahahuwa Taala menunjukkan aku kerajaanNya dari

yang paling tinggi hingga ke paling rendah. DiangkatNya saya melampaui Arash dan Kursi dan tujuh petala langitnya, kemudian Ia (Alloh) berkata; “Pintalah kepadaKu apa saja yang engkau kehendaki”.

Saya menjawab; “Ya Alloh!!! tidak akan saya minta apa pun melainkan
Engkau”.
JawabNya (Alloh) : “Sesungguhnya engkau hambaKu yang sebenar
benarnya”.
Pada suatu ketika pula Abu Yazid berkata:

“Sekiranya Alloh mengkaruniakan engkau kemiripan denganNya seperti
Ibrahim, kekuasaan Sholat Musa, keruhanian ‘Isa, namun wajahmu
hadapkanlah kepada Dia saja karena ia ada harta yang melampaui segala-
galanya itu”

Suatu hari seorang sahabatnya berkata kepada beliau; “Selama tiga puluh tahun
saya puasa di siang hari dan sembahyang di malam hari tetapi saya tidak dapati
kenikmatan keruhanian yang engkau katakan itu”.

Abu Yazid menjawab; “Jika engkau puasa dan sembahyang selama tiga ratus tahun
pun, engkau tidak akan mendapatkannya”.
Sahabatnnya berkata; “Bagaimanakah itu?”

Kata Abu Yazid; “obatnya ada tetapi engkau tidak akan sanggup menelannya
obat itu”. Tetapi oleh karena sahabatnya itu bersungguh-sungguh benar
meminta supaya diceritakan, Abu Yazid pun berkata;

“Pergilah kepada tukang gunting dan cukurlah janggutmu itu; buanglah
pakaianmu itu kecuali seluar dalam saja. Ambil satu kampit penuh yang
berisi “Siapa yang mau menempeleng kuduk leherku dia akan mendapat
buah ini” Kemudian dalam keadaan ini pergilah kepada Kadi dan ahli
syariat dan berkata; “Berkatilah Ruhku”.

Kata sahabatnya; “Tidak sanggup saya berbuat demikian, berilah saya cara
yang lain”.
Abu Yazid pun berkata;”Inilah saja caranya, tetapi seperti yang telah
saya katakan kamu ini tidak dapat diobat lagi”.

Sebab Abu Yazid berkata demikian kepada orang itu ialah karena orang
itu sebenarnya pencari pangkat dan kedudukan. Bercita-cita hendak
pangkat dan kedudukan seperti bersikap sombong dan bangga adalah
penyakit yang hanya dapat diobat dengan cara yang demikian itu.

Alloh berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong
(agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada
pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi
penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-
pengikut yang setia itu berkata: “Kami lah penolong-penolong agama
Allah”, lalu segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan (yang
lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang
beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-
orang yang menang. (Ash Shaff:14)

Apabila orang bertanya kepada Nabi ‘Isa; “Apakah kerja yang paling tinggi sekali
derajatnya?” Beliau menjawab;”Mencintai Alloh dan tunduk kepadaNya”.27
Suatu ketika orang bertanya kepada Wali Alloh bernama Rabi’atul Adawiyah sama
ada beliau cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau menjawab; ” Cinta kepada
Alloh menghalang aku cinta kepada makhluk”.
Ibrahim bin Adham dalam doanya berkata;”Ya Alloh! pada mataku syurga itu

sendiri lebih kecil dari unggas jika dibandingkan dengan Cintaku
terhadapMu dan kenikmatan mengingatiMu yang Engkau telah kurniakan
kepadaku”.

Siapa yang menganggap ada kemungkinan menikmati kebahagiaan di akhirat
tanpa mencintai Alloh adalah orang yang telah jauh sesat anggapannya, karena
segala-galanya di akhirat itu adalah kembali kepada Alloh dan Alloh itulah alamat
yang dituju dan dicapai setelah melalui halangan yang tidak terhingga banyaknya.
Nikmat memandang Alloh itu adalah kebahagiaan. Jika seseorang itu tidak suka
kepada Alloh di sini, maka di sana pun ia tidak suka juga kepada Alloh. Jika sedikit
saja sukanya kepada Alloh di sini, maka sedikit jugalah sukanya kepada Alloh di
sana . Pendeknya, kebahagiaan kita di akhirat adalah tergantung pada kadar
Cintanya kita kepada Alloh di dunia ini.

Sebaliknya jika dalam hati manusia itu ada tumbuh cinta kepada apa saja yang
berlawanan dengan Alloh, maka keadaan hidup di akhirat sana akan berlainan dan
ganjil sekali kepadanya dan dengan ini apa saja yang mendatangkan kebahagiaan
kepada orang lain, akan mendatangkan ‘azab sengsara kepadanya. Mudah-
mudahan Alloh lindungi kita dari terjadi sedemikian itu.

Ini bolehlah kita gambarkan dengan misalnya seperti berikut :

Seorang pengangkut sampah pergi ke kedai yang menjual minyak wangi. Apabila
beliau membawa bau-bauan yang harum wangi itu, ia pun jatuh dan tidak sadar
diri. Orang pun datang hendak memberi pertolongan kepadanya. Air dipercikkan
kemukanya dan dihidungnya diletakkan kasturi. Tetapi beliau bertambah parah.
Akhirnya datanglah seorang pengangkut sampah juga, lalu diletakkan sedikit
sampah kotor di bawah hidung orang yang pingsan itu. Dengan segera orang itu
pun sadar semula sambil berseru dengan rasa puas hati, “Wah! Inilah sebenarnya
wangi!”

Demikian jugalah, ahli dunia tidak akan menjumpai lagi karat dan kotor dunia ini
diakhirat. Kenikmatan keruhaniah alam sana berlainan sekali dan tidak sesuai
dengan kehendaknya. Maka ini menjadikannya bertambah parah dan sengsara
lagi. karena alam sana itu adalah alam ruhaniah dan penzhohiran Jamal
(keindahan) Alloh Subhanahuwa Taala. Berbahagialah mereka yang ingin mencapai
kebahagiaan di sana itu dan menyesuaikan dirinya dengan alam itu. Semua sikap
zahud, menahan diri ibadah, menuntut ilmu adalah bertujuan untuk mencapai
penyesuaian itu dan penyesuaian itu adalah cintanya. Inilah maksud Al-Quran:

“Berbahagialah orang yang beramal sekarang apa yang
menguntungkannya di akhirat kelak”.

Maka sekarang kita masuk pula kepada bagian yang berhubungan dengan Zikirulloh
(mengenang atau mengingat Alloh). Manusia itu hendaklah ingat bahwa Alloh
Melihat dan Memperhatikan semua tingkah laku dan pikirannya. Manusia hanya
melihat yang zhohir saja, tetapi Alloh Melihat zhohir dan batinnya manusia itu.
Orang yang percaya dengan ini sebenarnya dapatlah ia menguasai dan
mendisiplinkan zhohir dan bathinnya.

Jika ia tidak percaya ini, maka KAFIRLAH ia. Jika ia percaya tetapi ia
bertindak berlawanan dengan kepercayaan itu, maka salah besarlah ia.
Suatu hari, seorang Negro menemui Nabi SAW. dan berkata;”Wahai
Rasulullah! Saya telah melakukan banyak dosa.
Adakah taubatku diterima atau tidak?”. Nabi SAW. menjawab; “Ya”.
Kemudian Negro itu berkata lagi,”Wahai Rasulullah! Setiap kali aku
membuat dosa adakah Alloh Melihatnya?”.Nabi SAW. menjawab lagi;
“Ya”

Negro itu pun menjerit lalu mati. Sehingga seseorang itu benar-benar
percaya bahwa ia sentiasa dalam perhatian Alloh, maka tidaklah mungkin
baginya membuat amalan yang baik-baik.

Seorang Sheikh ada seorang murid yang lebih disayanginya daripada murid-murid
yang lain. Dengan itu murid-murid yang lain itu pun berasa dengki kepada murid
yang seorang itu. Suatu hari Sheikh itu memberi kepada tiap-tiap murid itu seekor
ayam dan menyuruh mereka menyembelih ayam itu di tempat yang tidak ada
seseorang pun melihat ia menyembelih itu. Maka pergilah mereka tiap-tiap murid
membawa seekor ayam ke tempat yang sunyi dan menyembelih ayam di situ.
Kemudian membawanya kembali kepada Sheikh mereka. Semuanya membawa
ayam yang telah disembelih kepada Sheikh mereka kecuali seorang yaitu murid
yang lebih disayangi oleh Sheikh itu. Murid yang seorang ini tidak menyembelih
ayam itu.

Ia berkata; “Saya tidak menjumpai tempat yang dimaksudkan itu kerena
Alloh di mana-manapun Melihat”.
Sheikh itu pun berkata kepada murid-murid yang lain: “Sekarang sekelian telah
lihat sendiri derajat pemuda ini. Dia telah mencapai ke taraf ingat sentiasa
kepada Alloh”.
Apabila Zulaiha coba menggoda Nabi Yusuf , ia menutup dengan kain muka sebuah
berhala yang selalu disimpannya.
Nabi Yusuf berkata kepadanya :

“Wahai Zulaiha, adakah kamu malu dengan batu? sedangkan dengan
batu engkau malu, betapa aku tidak malu dengan Alloh yang menjadikan
tujuh petala langit dan bumi”.

Ada seorang datang berjumpa dengan Sheikh dan berkata; “Saya tidak dapat
menghindarkan mataku dari hal-hal yang membawa dosa. Bagaimanakah saya
hendak mengawalnya?”.

Sheikh menjawab; “Dengan cara mengingat Alloh Melihat kamu lebih jelas
dan terang lagi daripada kamu melihat orang lain”.
Dalam hadis ada diterangkan bahwa Alloh ada berfirman seperti demikian;

“Syurga itu adalah bagi mereka yang bersabar hendak membuat suatu
dosa, dan kemudian mereka ingat bahwa Aku sentiasa Memandang
mereka, lalu mereka pun menahan diri mereka”.

Abdullah Ibnu Dinar meriwayatkan;
“Satu ketika saya berjalan dengan Khalifah Omar menghampiri kota Mekah.
Kami bertemu dengan seorang gembala yang sedang membawa gembalaannya.
Omar berkata kepada gembala itu :”Jualkan pada saya seekor kambing
itu”.Gembala itu menjawab; “Kambing itu bukan saya punya, tuan saya
yang mempunyainya.”Kemudian untuk mencobanya,
Omar berkata;”Baiklah, kamu katakanlah kepada tuanmu bahwa yang

seekor itu telah dimakan oleh serigala” . Budak gembala itu menjawab;
“Tidak, sesungguhnya tuan saya tidak tahu tetapi Alloh
Mengetahuinya”.

Mendengar jawapan budak gembala itu, bertetesanlah air mata Omar. Beliau pun pergi berjumpa dengan tuan budak gembala kambing itu lalu membelinya dan membebaskannya. Beliau berkata kepada budak itu :”Karena kata-

katamu itu, engkau bebas dalam dunia dan akan bebas juga di akhirat
kelak”.

Ada dua derajat berkenaan Zikir Alloh (mengenang Alloh) ini. Derajat pertama
ialah derajat Aulia Alloh. Mereka bertafakur dan tenggelam dalam tafakur
mereka dalam mengenang Keagungan dan Kemuliaan Alloh. dan tidak ada
tempat langsung dalam hati mereka untuk ‘gairuLlah” (selain dari Alloh). Ini
adalah derajat zikir Alloh yang bawah, karena apabila hati seseorang itu telah
tetap dan anggotanya dikontrol penuh oleh hatinya hingga mereka dapat
mengawal mereka dari hal-hal yang halal pun, maka tidak perlulah lagi ia
menyediakan alat atau penahan untuk menghalangi dosa.

Maka kepada zikir Alloh seperti inilah Nabi Muhammad (S.W.T) maksudkan
apabila ia berkata,
19
“Orang yang bangun pagi-pagi dengan hanya Alloh dalam hatinya, Alloh
akan memeliharanya didunia dan diakhirat.”

Setengah daripada mereka golongan ini sangat asyik dan tenggelam dalam
mengenang dalam mengingati Alloh hingga kalau ada orang berbicara kepada
mereka tidaklah mereka dengar, kalau orang berjalan dihadapan mereka tidaklah
mereka nampak. Mereka seolah-olah diam seperti dinding. Seseorang Wali Alloh
berkata : “Suatu hari saya melintasi tempat ahli-ahli pemanah sedang bertanding
memanah. Tidak berapa jauh dari situ ada seorang duduk seorang diri. Saya pergi
kepadanya dan coba hendak berbicara dengannya.

Tetapi ia menjawab,”Mengenang Alloh itu lebih baik dari berbicara”.
Saya bertanya,”tidakkah kamu merasa kesepian?”
“Tidak”jawabnya, “Alloh dan dua orang malaikat ada bersamaku”.
Saya bertanya kepada beliau sambil menunjukkan kepada pemanah-pemanah itu,
“Antara mereka itu, yang manakah akan menang?”
Beliau menjawab,”Yang itu, Alloh telah beri kemenangan kepadanya.”
Kemudian saya bertanya, “dari manakah kamu tahu ?”
Mendengar itu, ia merenung ke langit lalu berdiri dan pergi sambil berkata,”Oh
Tuhan! Banyak hamba-hambamu mengganggu seorang yang sedang
mengingatimu!”

Seorang wali Alloh bernama Syubli satu hari pergi berjumpa seorang sufi bernama
Thauri. Beliau lihat Thauri duduk dengan berdiam diri dalam tafakkur hingga
sehelai bulu romanya pun tidak bergerak.

Syubili bertanya kepada Thauri, “Kepada siapa anda belajar latihan
bertafakkur dengan diam diri seperti itu?”Thauri menjawab, “Dari seekor
kucing yang saya lihat menunggu di depan lubang tikus. Kucing itu akan
lebih diam dari apa yang saya lakukan ini.”
Ibn Hanif meriwayatkan:

“Saya diberitahu bahwa di Bandar Thur ada seorang Syeikh dan muridnya sentiasa
duduk dan tenggelam dalam zikir Alloh. Saya pergi ke situ dan saya dapati kedua
orang itu duduk dengan muka mereka menghadap ke kiblat. Saya memberi salam
kepada mereka tiga kali. Tetapi mereka tidak menjawab. Saya berkata, “Dengan
nama Alloh saya minta tuan-tuan menjawab salamku”. Pemuda itu mengangkat
kepalanya dan menjawab,

“Wahai Ibn Hanif! dunia ini untuk sebentar waktu saja, dan yang sebentar itupun tinggal sedikit saja. Anda mengganggu kami karena meminta kami menjawab salammu itu”.

Kemudian dia menundukkan kepalanya lagi dan terus berdiam diri. Saya rasa lapar dan dahaga pada masa itu, tetapi dengan memandang mereka itu saya lupa pada diri saya. Saya terus bersama mereka dan sembahyang Dhuhur dan Ashar bersama

mereka. Saya minta mereka memberi nasihat kepada saya berkenaan
kerohanian ini.
Pemuda itu menjawab, ” Wahai Ibni Hanif, kami merasa susah, kami tidak
ada lidah untuk memberi nasihat itu.” Saya terus berdiri di sepertiga malam.

Kami tidak berbicara antara satu sama lain, dan tidak tidur. Kemudian saya
berkata kepada diri saya sendiri, saya akan mohon kepada Alloh supaya mereka
menasihati saya.” Pemuda itu mengangkat kepalanya dan berkata,

“Pergilah cari orang seperti itu, ia akan dapat membawa Alloh kepada
ingatan anda dan melengkapkan rasa takut kepada hatimu, dan ia akan
memberi anda nasihat yang disampaikan secara diam tanpa berbicara
sembarangan.”

Demikianlah dzikir Alloh para Aulia yaitu melenyapkan dan menenggelamkan
pikiran dan khayalan dalam Mengenang Alloh.Zikir Mengenang Alloh (dzikir
Alloh) yang kedua ialah dzikirnya “golongan kanan” yaitu yang disebut

dalam Quran sebagai Ashabul Yamin. Mereka ini tahu dan kenal bahwa Alloh
sangat mengetahui terhadap mereka dan mereka merasa tunduk dan tawaduk di
Hadirat Alloh SWT tetapi tidaklah sampai mereka melenyapkan dan
menenggelamkan pikiran dan khayalan mereka dalam mengenang Alloh saja
sehingga tidak peduli keadaan keliling mereka. Mereka sadar diri mereka dan
sadar terhadap alam ini. Keadaan mereka adalah seperti seorang yang terkejut
karena didapati dalam keadaan telanjang dan cepat-cepat menutup aurat
mereka.

Golongan yang satu lagi adalah seperti orang yang tiba-tiba mendapati diri mereka di majlis raja yang besar lalu ia merasa tidak tentu arah dan merasa takjub.

Golongan yang mula-mula itu memeriksa terlebih dahulu apa yang memasuki hati
mereka dengan rapi sekali, karena di hari kiamat kelak tiga persoalan akan
ditanya terhadap tiap-tiap perbuatan. Dan tindakan yang telah dilakukan.

Pertama: “Kenapa kamu membuat ini?” ,
Kedua: “Dengan cara apa kamu membuat ini?”, dan
Ketiga: “Untuk tujuan apa kamu melakukan ini?”.

Yang pertama itu dipermasalahkan karena seseorang itu hendaklah
bertindak dari niat dan dorongan Ketuhanan dan bukan dorongan Syaitan
dan hawa nafsu.

Jika masalah itu dijawab dengan memuaskan hati, maka diadakan ujian
kedua yaitu masalah bagaiman tindakan itu dilakukan dengan bijak,
dengan cara baik, atau dengan cara tidak peduli atau tidak baik.

Yang ketiga, adanya perbuatan dan tindakan itu karena Alloh semataa
atau bukan karena hendak disanjung oleh manusia.
20

Jika seseorang itu memahami makna dari masalah masalah ini, maka ia tentu
berhati-hati sekali terhadap keadaan hatinya dan bagaimana ia melawan pikiran
yang mungkin menimbulkan tindakannya. Sebenarnya memilih dan menapis
pikiran dan khayalan itu sangatlah susah dan rumit.

Barangsiapa yang tidak sanggup membuatnya hendaklah pergi berguru
dengan orang-orang keruhanian. Mengaji dan berguru dengan mereka itu
dapat mendatangkan cahaya ke dalam hati. Dia hendaklah menjauhkan
diri dari orang-orang alim kedunian kerena mereka ini adalah alat atau
ujian syaitan.

Alloh berfirman kepada Nabi Daud a.s.;

” Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di
muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan
adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan
menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat
dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan
hari perhitungan. “. (Shaad:26)

Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda;

“Alloh kasih kepada orang yang tajam matanya terhadap hal-hal yang
menimbulkan syak-wasangka dan tidak membiarkan akalnya diganggui
oleh serangan hawa nafsu”.

Akal dan pilihan sangat berkaitan, dan orang yang akalnya tidak menguasai hawa
nafsu tidak akan dapat memilih yang baik dari yang jahat.

Disamping membuat pilihan dan berhati-hati sebelum bertindak, maka seseorang
itu hendaklah menghitung dan menyadari apa yang telah dilakukannya dahulu.
Tiap-tiap malam periksalah dengan hati dan lihatlah apa yang telah dilakukan dan
sama adanya untung atau rugi dalam bisnis keruhaniaan ini. Ini adalah penting
karena hati itu ibarat rekan dalam berbisnis yang jahat yang senantiasa hendak
menipu dan menjilat. Kadang-kadang ia menunjukkan diri jahatnya itu.
Sebaliknya topeng taat kepada Alloh, agar manusia menganggap ia telah
beruntung tetapi sebenarnya ia telah rugi.

Seorang Wali Alloh bernama Amiya yang berumur 60 tahun telah menghitung
berapa hari umurnya. Maka didapati umurnya ialah selama 21, 600 hari.
Beliau berkata kepada dirinya sendiri :
“Aduhai! jika saya telah melakukan satu dosa dalam sehari, bagaimana
saya hendak lari dari beban 21, 600 dosa?”.

Beliau menjerit dan terus rebah. Apabila orang datang hendak
mengangkatkannya, mereka telah mendapati beliau telah meninggal dunia.
Tetapi malang , kebanyakan orang telah lupa. Mereka tidak memperhitung diri
mereka sendiri. Jika tiap-tiap satu dosa itu diibaratkan sebiji batu, maka
penuhlah sebuah rumah dengan batu itu. Jika malaikat Kiraman Kaatibin
meminta gaji karena menulis dosa yang telah manusia lakukan, maka tentulah
habis uangnya bahkan tidak cukup untuk membayar gaji mereka itu. Orang
berpuas hati membilang biji tasbih sambil berzikir nama Alloh, tetapi mereka
tidak ada biji tasbih untuk mengira berapa banyak percakapan sia-sia yang telah
diucapkannya. Oleh karena itulah, Khalifah Omar berkata :

“Timbanglah perkataan dan perbuatanmu sekarang sebelum ia
dipertimbangkan di akhirat kelak”.
Beliau sendiri sebelum pergi tidur malam hari memukul kakinya dengan cambuk
sambil berkata : “Apa yang telah engkau lakukan hari ini?”.

Suatu hari Thalhah sedang sembahyang di bawah pohon-pohon kurma dan
terlihat olehnya seekor burung yang jinak berterbangan di situ. Karena
memandang burung itu beliau terlupa berapa kalikah beliau sujud. Untuk
menghukum dirinya karena kelalaian itu, beliau pun memberi pohon-pohon
khurma itu kepada orang lain.

Aulia Alloh mengetahui hawa nafsu mereka itu selalu membawa kepada
kesesatan. Oleh itu mereka berhati-hati benar dan menghukum diri mereka
setiap kali mereka telah melanggar batas.

Jika seseorang itu mendapati diri mereka telah terjauh dan menyeleweng
dari sifat zuhud dan disiplin diri, maka sepatutnya beliau belajar dan
meminta nasihat dari orang yang pakar dalam latihan keruhanian,
supaya hati mereka lebih bersemangat kepada sifat zuhud, disiplin diri
dan akhlak yang suci itu.

Seorang Wali Alloh pernah berkata,

“Apabila saya berasa merosot dalam disiplin diri, saya akan melihat
Muhammad bin Abu Wasi, dan melihat beliau itu bersemagatlah hatiku
sekurang-kurangnya seminggu”.

Jika seseorang itu tidak mendapati seseorang yang zuhud di sekitarnya, maka indahlah mengkaji riwayat Aulia Alloh. indah juga ia menasihat jiwanya seperti demikian :

21

“Wahai jiwaku! engkau fikir dirimu cerdik pandai dan engkau marah jika disebut bodoh. Maka apakah engkau ini? Engkau sediakan kain baju untuk melindungi dingin tetapi tidak bersedia untuk kembali ke akhirat.

Keadaanmu adalah seperti orang dalam musim sejuk berkata :
“Aku tidak pakai pakaian panas, cukuplah aku bertawakkal kepada Alloh
untuk melindungi aku dari dingin”.

Dia telah lupa bahwa Alloh disamping menjadikan dingin itu ada juga memberi
petunjuk kepada manusia bagaimana membuat pakaian untuk melindungi dari dari
sejuk dan dingin, dan disediakan alat dan bahan-bahan untuk membuat pakaian
itu. Ingatlah jiwa! hukuman kepadamu di akhirat kelak bukanlah karena Alloh
murka karena tidak patuhmu, dan janganlah berkata :

“Bagaimana pula dosaku boleh menyakiti Alloh?

Adakah hawa nafsumu sendiri yang menyalakan api neraka di dalam dirimu sendiri,
seperti orang yang memakan makanan yang membawa penyakit. adalah penyakit
itu tejadi dalam tubuh manusia, dan bukan karena dokter marah kepadanya
karena tidak mematuhi perintahnya.

“Tidak malukah kamu wahai jiwa! karena kamu sangat cenderung kepada dunia!!!.
Jika kamu tidak percaya dengan Syurga dan Neraka, maka sekurang-kurangnya
percayalah kepada mati yang akan merampas dari kamu semua keindahan dunia
dunia dan membuat kamu merasa kepayahan berpisah dari dunia ini. Semakin kuat
keterikan kamu kepada dunia, maka semakin pedihlah yang kamu rasakan.

Apakah dunia ini bagimu? Jika seluruh dunia ini dari Timur ke Barat kepunyaanmu
dan menyembahmu, namun itu tidaklah lama. Akan semuanya hancur jadi abu
bersama dirimu sendiri dan namamu makin lama makin dilupakan, seperti Raja-
raja yang dahulu sebelum kamu. Setelah kamu melihat bagaimana kecil dan
kerdilnya kamu di dunia ini, maka kenapa kamu bergila-gila benar menjual
keindahan dan kebahagiaan yang abadi dan memilih kebahagian yang sementara
seperti menjual intan berlian yang mahal untuk mendapatkan kaca yang tidak
berharga, dan menjadikan kamu bahan ketawa orang lain?”

TANDA-TANDA
CINTA KEPADA ALLOH
Ramai orang berkata ia Cinta kepada Alloh Subhanahuwa Taala. Perkataan itu
hendaklah diuji terlebih dahulu adakah yang murni atau hanya palsu.
Ujian pertama adalah : Dia hendaklah tidak benci kepada mati karena tidak ada
orang yang enggan bertemu dengan sahabatnya.
Nabi Muhammad saw bersabda :
“Siapa yang ingin melihat Alloh, Alloh ingin melihat dia.”

Memang benar ada juga orang yang ikhlas cintanya kepada Alloh berasa gentar
apabila mengingat kedatangan mati sebelum ia siap menyiapkan persediaan
untuk pulang ke akhirat, tetapi jika betul-betul ikhlas dia akan bertambah rajin
berusaha lagi untuk menyiapkan persediaan itu.

Ujian kedua adalah : ia mestilah bersedia mengorbankan kehendaknya untuk

menurut kehendak Alloh dan dengan daya upaya yang ada menghampirkan diri
kepada Alloh dan benci kepada apa saja yang menjauhkan dirinya dengan Alloh.
Dosa yang dilakukan oleh seseorang itu bukanlah bukti ia tidak cinta kepada Alloh
langsung tetapi itu membuktikan yang ia tidak menyintai Alloh sepenuh jiwa
raganya.

Fudhoil bin Iyadh seorang wali Alloh berkata kepada seorang lelaki :

“Jika seseorang bertanya kepada mu apakah kamu cinta kepada Alloh?
hendaklah kamu diam karena jika kamu kata: “Saya tidak cinta
kepadaNya”, maka kamu kafir dan jika kamu berkata, “Saya cinta”,
maka perbuatan kamu berlawanan dengan katamu.”

Ujian yang ketiga adalah : ingat kepada Alloh itu mestilah sentiasa ada dalam

hati manusia itu tanpa ditekan atau direkayasa kebenarannya, karena apa yang kita cinta itu mestilah sentiasa kita ingat. Sekiranya cinta itu sempurna, ia tidak akan lupa yang dicintainya itu. Ada juga kemungkinan bahwa sementara cinta kepada Alloh itu tidak mengambil tempat yang utama dalam hati seseorang itu, maka cinta kepada menyintai Alloh itu mungkin mengambil tempat juga, karena cinta itu satu hal dan cinta kepada cinta itu adalah satu masalah yang lain pula.

Ujian yang keempat adalah : kemudian menunjukkan adanya cinta kepada

Alloh ialah bahwa seseorang itu cinta kepada Al-Quran, yaiitu Kalam Alloh, dan cinta kepada Muhammad yaitu Rasul Alloh. Jika cintanya benar-benar kuat, ia akan cinta kepada semua orang karena semua manusia itu adalah hamba Alloh. Bahkan cintanya meliputi semua makhluk, karena orang yang kasih atau cinta kepada seseorang itu tentulah kasih pula kepada kerja-kerja yang dibuat oleh kekasihnya itu dan cintanya juga kepada tulisan atau karangannya.

Ujian yang kelima adalah : ia suka duduk bersendirian untuk maksud beribadat

dan ia suka malam itu cepat datang agar dapat berbicara dengan rekan atau
sahabatnya tanpa ada yang menggangu. Jika ia suka berbual-bual di siang hari
dan tidur di malam hari maka itu menunjukkan cintanya tidak sempurna. Alloh
berfirman kepada Nabi Daud :

22

“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu
sebahagian mereka berbuat lalim kepada sebahagian yang lain, kecuali
orang orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat
sedikitlah mereka ini”. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya;
maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan
bertobat”. (Shaad:24)

Pada hakikatnya, jika cinta kepada Alloh itu benar-benar mengambil tempat
seluruhnya didalam hati seseorang itu, maka cintanya kepada yang lain itu tidak
akan dapat mengambil tempat langsung ke dalam hati itu. Seorang dari Bani Israel
telah menjadi kebiasaan sembahyang di malam hari.

Tetapi apabila melihat burung bernyanyian di sebatang pohon dengan merdu
sekali, dia pun sembahyang di bawah pohon itu supaya dapat menikmati nyanyian
burung itu. Alloh menyuruh Nabi Daud pergi berjumpa dia dan berkata :

“Engkau telah mencampurkan cinta kepada nyanyian burung dengan cinta
kepadaKu, Martabat engkau di kalangan Auliya’ Alloh telah diturunkan,”

Sebaliknya ada pula orang yang terlalu cinta kepada Alloh, suatu hari sedang ia
melakukan ibadatnya kepada Alloh rumahnya telah terbakar, tetapi ia tidak tahu
dan sadar rumahnya terbakar.

Ujian yang keenam adalah : ibadahnya menjadi senang sekali. Seorang Wali
Alloh ada berkata :

“Dalam tiga puluh tahun yang pertama saya melakukan sembahyang
malam dengan susah payah sekali, tetapi tiga puluh yang kedua
sembahyang itu menjadi indah dan nikmat pula kepada saya.” Apabila
cinta kepada Alloh itu sempuna, maka tidak ada keindahan yang
sebanding dengan keindahan beribadah.

Ujian yang ke ketujuh adalah : Orang yang cinta kepada Alloh itu akan cinta
kepada mereka yang taat kepada Alloh dan mereka benci kepada orang-orang kafir
dan orang-orang yang durhaka kepada Alloh.
Al-Quran menyatakan :

” Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau
ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah
kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta
kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta
menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan.
Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, .”
(Hujurat:7)

Suatu masa, Nabi bertanya kepada Alloh, “Wahai Tuhan, siapakah
kekasihmu?” Terdengarlah jawaban,

“Siapa yang berpegang teguh kepadaKu seperti bayi dengan ibunya,
mengambil perlindungan dengan MengingatiKu seperti burung mencari
perlindungan disarangnya, dan yang marah melihat dosa seperti singa
yang marah yang tidak takut kepada apa dan siapa pun.”

MEMANDANG ALLOH

Cinta kepada Alloh ini adalah hal yang paling tinggi sekali dan itulah tujuan kita
yang terakhir. Kita telah berbicara berkenaan bahaya kerohanian yang akan
menghalangi cinta kepada Alloh dalam hati manusia, dan kita telah berbicara
berkenaan berbagai sifat-sifat yang baik sebagai keperluan asas menuju Cinta
Alloh itu.

Kesempurnaan manusia itu terletak dalam Cinta kepada Alloh ini. Cinta kepada
Alloh ini hendaklah menakluki dan menguasai hati manusia itu seluruhnya. Kalau
pun tidak dapat seluruhnya, maka sekurang-kurangnya hati itu hendaklah cinta
kepada Alloh melebihi cinta kepada yang lain.

Sebenarnya mengetahui Cinta Ilahi ini bukanlah satu hal yang senang sehingga
ada satu golongan orang bijak pandai agama yang langsung menafikan cinta
kepada Alloh atau Cinta Ilahi itu. Mereka tidak percaya manusia boleh mencintai
Alloh Subhanahuwa Taala karena Alloh itu bukanlah sejenis dengan manusia.
Kata mereka; maksud Cinta Ilahi itu adalah semata-mata tunduk dan patuh
kepada Alloh saja.

Sebenarnya mereka yang berpendapat demikian itu adalah orang yang tidak tahu
apakah hakikatnya agama itu.
23
Semua orang Islam setuju bahwa cinta kepada Alloh (cinta Alloh) itu adalah satu
tugas. Alloh ada berfirman berkenaan dengan orang-orang mukmin;

” Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad
dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang
Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap
lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap
orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut
kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-
Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-
Nya) lagi Maha Mengetahui. “. (Al Maidah:54)

Nabi pernah bersabda;
“Belum sempurna iman seseorang itu hingga ia Mencintai Alloh dan
Rasulnya lebih daripada yang lain”.
Apabila malaikat maut datang hendak mengambil nyawa Nabi Ibrahim,
Nabi Ibrahim berkata,
“Pernahkah engkau melihat sahabat mengambil nyawa sahabat?”
Alloh berfirman,
“Pernahkah engkau melihat sahabat tidak mau melihat sahabatnya?”
Kemudian Nabi Ibrahim berkata,”Wahai Izrail! Ambillah nyawaku!”
Doa ini diajar oleh Nabi kepada sahabatnya;

“Ya Alloh, kurniakanlah kepada ku Cinta terhadap Mu dan Cinta kepada
mereka yang Mencintai mu, dan apa saja yang membawa aku hampir
kepada CintaMu, dan jadikanlah CintaMu itu lebih berharga kepadaku dari
air sejuk kepada orang yang dahaga.”

Hasan Basri berkata;
“Orang yang kenal Alloh akan Mencintai Alloh, dan orang yang mengenal
dunia akan benci kepada dunia itu”.

Sekarang marilah kita membicarkan pula berkenaan dengan keadaan cinta itu.
Bolehlah ditafsirkan bahwa cinta itu adalah kecenderungan kepada sesuatu yang
indah atau nyaman. Ini nyata sekali pada dari yang lima (pancaindera) yaiitu
tiap-tiap satunya mencintai apa yang memberi keindahan atau kepuasan
kepadanya. Mata cinta kepada bentuk-bentuk yang indah. Telinga cinta kepada
bunyi-bunyinya yang merdu, dan sebagainya. Inilah jenis cinta yang kita miliki
dan binatang pun memilikinya.

Tetapi ada dari yang keenam atau keupayaan pandangan yang terletak dalam
hati, dan ini tidak ada pada binatang. Dengan melalui inilah kita mengenal
keindahan dan keagungan keruhanian. Oleh karena itu, mereka yang
terpengaruh dengan kehendak-kehendak jasmaniah dan kedunian saja tidak
dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh Nabi apabila baginda berkata bahwa
baginda cinta kepada sembahyang melebihi dari cintanya kepada perempuan dan
bau harum wangi, meskipun perempuan dan wangi-wanginya itu disukai juga
oleh baginda. Tetapi siapa yang mata batinnya terbuka untuk melihat
keindahan dan kesempurnaan Ilahi akan memandang rendah kepada semua hal-
hal yang zhohir walau bagaimanapun cantiknya sekalipun.

Orang yang memandang zhohir saja akan berkata bahwa kecantikan itu terletak
pada warna kulit yang putih dan merah, kaki dan tangan yang eloknya dan
sebagainya lagi, tetapi orang ini buta kepada kecantikan akhlak, seperti apa
yang dikatakan orang bahwa seseorang itu mempunyai sifat-sifat akhlak yang
“indah”. Tetapi bagi mereka yang mempunyai pandangan batin dapat mencintai
orang-orang besar yang telah kembali kealam baka, seperti Khalifah Umar dan
Abu Bakar misalnya, karena kedua-dua orang besar ini mempunyai sifat-sifat
yang agung dan mulia, meskipun tubuh mereka telah hancur menjadi tanah.
Cinta seperti ini bukan memandang kepada sifat-sifat zhohir saja, tetapi
memandang kepada sifat-sifat batin. Bahkan apabila kita hendak menimbulkan
cinta dalam hati kanak-kanak terhadap seseorang, maka kita tidak
memperihalkan keindahan bentuk zhohirnya, dan lain-lain, tetapi kita perihalkan
keindahan-keindahan batinnya.

Apabila kita gunakan prinsip ini terhadap cinta kepada Alloh, maka kita akan
dapati bahwa Dia sajalah sepatutnya kita Cinta. Mereka yang tidak mencintai
Alloh itu ialah karena mereka tidak mengenal Alloh itu. Apa saja yang kita cinta
kepada seseorang itu, kita cintai karena itu adalah bayangan Alloh. Karena
inilah kita cinta kepada Muhammad Saw karena baginda adalah Rasul dan kekasih
Alloh, dan cinta kepada orang-orang alim dan orang-orang auliya itu adalah
sebenarnya cinta kepada Alloh.
Kita akan lihat ini lebih jelas jika kita perhatikan apakah sebab-sebabnya yang
menyemarakkan cinta.

Sebab pertama ialah, bahwa seseorang itu cinta kepada dirinya sendiri dan

menyempurnakan keadaannya sendiri. Ini membawanya secara langsung
menuju Cinta kepada Alloh, karena wujudnya dan sifatnya manusia itu adalah
semata-mata Kurniaan Alloh saja. Jika tidaklah karena kehendak Alloh

Subhanahuwa Taala dan KemurahanNya, manusia tidak akan zhohir ke alam nyata
itu. Kejadian manusia itu dan pencapaian menuju kesempurnaan adalah juga
dengan kurnia Alloh semata. Sungguh aneh jika seseorang itu berlindung ke bawah
pohon dari sinar matahari tetapi tidak berterima kasih kepada pohon itu.

Begitu jugalah jika tidaklah karena Alloh, manusia tidak akan wujud dan tidak akan ada mempunyai sifat-sifat langsung. Oleh karena itu, kenapa manusia itu tidak Cinta kepada Alloh?Jika tidak cinta kepada Alloh berarti ia

tidak mengenalNya. Tanpa mengenalNya orang tidak akan Cinta kepadaNya,
karena Cinta itu timbul dari pengenalan . Orang yang bodoh saja yang tidak
mengenal.
Sebab yang kedua ialah,bahwa manusia itu cinta kepada orang yang menolong

dan memberi kurnia kepada dirinya. Pada hakikatnya yang memberi pertolongan
dan kurnia itu hanya Alloh saja. Sebenarnya apa saja pertolongan dan kurnia dari
makhluk atau hamba itu adalah dorongan dari Alloh Subhanahuwaa Taala juga.
Apa saja niat hati untuk membuat kebaikan kepada orang lain, sama ada keinginan
untuk maju dalam bidang agama atau untuk mendapatkan nama yang baik, maka
Alloh itulah pendorong yang menimbulkan niat, keinginan dan usaha untuk
mencapai apa yang dicinta itu.

Sebab yang ketiga ialah cinta yang ditimbulkan dengan cara renungan atau

tafakur tentang Sifat-sifat Alloh, Kuasa dan KebijaksanaanNya. Dan bermula
Kekuasaan dan kebijaksanaan manusia itu adalah bayangan yang amat kecil dari
Kekuasaan dan Kebijaksanaan Alloh Subhanahuwa Taala juga. Cinta ini adalah
seperti cinta yang kita rasakan terhadap orang-orang besar di zaman dulu,
misalnya Imam Malik dan Imam Syafie meskipun kita tidak akan menyangka
menerima sebarang faedah pribadi dari mereka itu, dan dengan itu adalah jenis
yang tidak mencari untung. Alloh berfirman kepada Nabi Daud,

“Hamba yang paling aku Cintai ialah mereka yang mencari Aku bukan
karena takut hukumKu atau hendakkan KurniaanKu, tetapi adalah semata-
mata karena Aku ini Tuhan.”

Dalam kitab Zabur ada tertulis,

“Siapakah yang lebih melanggar batas daripada orang yang menyembahKu
karena takutkan Neraka atau berkehendakkan Syurga? Jika tidak aku
jadikan Surga dan Neraka itu tidakkah Aku ini patut disembah?”

Sebab yang keempat berhubungan dengan cinta ini ialah karena keterikat yang
erat antara manusia dan Tuhannya, yang maksudkan oleh Nabi dalam sabdanya :
“Sesungguhnya Alloh jadikan manusia menurut bayanganNya”
Selanjutnya Alloh berfirman;

“HambaKu mencari kehampiran denganKu, supaya Aku jadikan dia kawanKu, dan bila Aku jadikan ia kawanku, jadilah Aku telinganya, matanya dan lidahnya”.

Alloh berfirman juga kepada Nabi Musa;

“Aku sakit, engkau tidak mengungjungiKu.” Nabi Musa menjawab,
“Aahai Tuhan, Engkau itu Tuhan langit dan bumi, bagaimana engkau
boleh sakit?” Alloh menjawab, “Seorang hambaKu sakit, kalau engkau
mengunjungi dia, maka engkau mengunjungi Aku.”

Ini adalah satu hal yang agak bahaya hendaklah dikaji lebih dalam karena ia tidak
terjangkau oleh pengetahuan orang awam, bahkan yang bijak pandai pun
mungkin tumbang dalam perjalanan hal ini, lalu menganggap ada penzhohiran
atau penjelmaan Tuhan dalam manusia. Tambahan pula hal kemiripan hamba
dengan Tuhan ini dibantah oleh Alim Ulama’ yang tersebut diatas dulu karena
mereka berpendapat bahwa manusia itu tidak dapat mencintai Alloh oleh sebab
Alloh bukan sejenis manusia. Walau pun berapa jauh jaraknya antara mereka,
namun manusia boleh mencintai Alloh karena yang kemiripan itu ada ditunjukkan
oleh sabda Nabi :

“Alloh jadikan manusia menurut rupanya.”

Dan kataku pula (suluk), untuk mendapat dan menjejaki maksud sabda Nabi
yang penuh dan melimpah dengan lautan hikmah zhohir dan batin ini, perlulah
diambil pengajaran dari kalangan ulama yang muqarrabin yang arifbiLlah dari
kalangan Aulia Alloh yang apabila berbicara, hanya akan mengungkapkan
sesuatu yang didatangi dari Alam Tinggi, bukan beralaskan sesuatu kepentingan
atau pengaruh hawa nafsunya. Ilmu mereka adalah pencampakkan Ilham dari
Alloh Taala yang didapati terus dari Alloh sebagaimana yang telah ditegaskan
oleh Imam Ghazali dalam karyanya Al-Risalutul lil Duniyyah sebagaimana berikut;

Ilham adalah kesan Wahyu. Wahyu adalah penerangan Urusan Ghoibi
manakala Ilham ialah pemaparannya. Ilmu yang didapati menerusi Ilham
dinamakan Ilmu Laduni.

Ilmu Laduni ialah ilmu yang tidak ada perantaraan dalam mendapatkannya di antara jiwa dan Alloh Taala. Ia adalah seperti cahaya yang datang dari lampu Qhaib jatuh ke atas Qalbu yang bersih, kosong lagi halus (Lathif).

Semua orang Islam percaya bahwa memandang Alloh itu adalah puncak segala
kebahagiaan karena ada tercatat dalam hukum. Tetapi bagi kebanyakan orang,
ini adalah berbicara di mulut saja yang tidak menimbulkan rasa dalam hati.
Sebenarnyalah begitu karena bagaimana orang dapat menyintai sesuatu jika ia
tidak tahu dan tidak kenal? Kita akan coba menunjukkan secara ringkas
bagaimana memandang Alloh itu puncak segala kebahagiaan yang bisa dicapai
oleh manusia.

Pertama , tiap-tiap bakat atau anggota manusia itu ada tugas-tugasnya masing-
masing dan ia merasa tertarik dan suka menjalankan tugas itu. Ini serupa saja
sejak dari kehendak tubuh yang paling rendah hinggalah kepada pengetahuan
akal yang paling tinggi. Usaha mental (otak) yang paling rendah pun
mendatangkan ketertarikan yang lebih dari hanya memuaskan kehendak tubuh
saja. Kadang-kadang seseorang yang khusuk bermain catur tidak mau makan
meskipun ia berkali-kali dipanggil untuk makan.

25

Makin tinggi hal pengetahuan kita itu, maka makin bertambah menarik dan sukalah
kita mengusahakan hal itu. Misalnya kita lebih berminat untuk mengetahui rahasia
Sultan dan rahasia menteri. Dengan demikian, oleh karena Alloh itu adalah objek
atau hal pengetahuan yang paling tinggi, maka mengenal atau mengetahui Alloh
itu mestilah memberi kebahagiaan dan kelezatan lebih daripada yang lain-lain.
Orang yang mengetahui dan mengenal Alloh walaupun dalam dunia ini. seolah-
olah di dalam syurga, buah-buahan bebas untuk dipetik, dalam lebarnya tidak
disempitkan oleh penghuninya yang ramai itu.
Firman Alloh SWT :

” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada
surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-
orang yang bertakwa ” (Al Imran:133)

Tetapi kenikmatan ilmu atau pengetahuan masih tidak menyamai atau menyerupai
kenikmatan pandangan sebagaimana ketertarikan kita dalam memikirkan mereka
yang bercinta adalah lebih rendah daripada ketertarikan yang diberi oleh
memandangnya dengan benar.

Terpenjaranya kita dalam tubuh kita dari tanah dan air dan terbelenggu kita dalam
hal-hal indera (pancaindera) menjadikan hijab yang melindungi kita daripada
memandang Alloh , meskipun tidak menghalang pencapaian kita kepada
mengetahui dan mengenalNya. karena inilah Alloh berfirman kepada Nabi Musa di
Gunung Sinai,

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang
telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya,
berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku
agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-
kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia
tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”.
Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya
gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa
sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada
Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Al Araaf:143)

Hakikat hal ini adalah sebagaimana benih manusia itu menjadi manusia,
dan biji tamar menjadi pohon tamar, begitu jugalah mengenal Alloh yang
diperoleh di dunia ini akan bertukar menjadi “Memandang Alloh” di
akhirat kelak, dan mereka yang tidak mempelajari pengetahuan itu tidak
akan mendapat pandangan itu. Pandangan ini tidak akan dibagi-bagikan
sama rata kepada mereka yang tahu tetapi “konsep pemahaman” mereka
tentangnya akan berbeda-beda sebagaimana ilmu mereka.

Alloh itu Satu tetapi ia kelihatan dengan berbagai-bagai cara, sebagaimana satu
benda itu terbayang dalam berbagai cara dalam berbagai cermin. Ada yang
lurus, ada yang bengkok, ada yang terang dan ada yang gelap. Sesuatu
cermin itu mungkin terlalu bengkok dan ini menjadikan bentuk-bentuk yang
cantik kelihatan buruk dalam cermin itu. Seseorang manusia itu mungkin
membawa ke akhirat hati yang gelap dan bengkok, dan dengan itu pandangan
yang menjadi puncak kedamaian dan kebahagiaan kepada orang lain, akan
menjadi sumber kesengsaraan dan kedukaan kepadanya.

Orang yang Menyintai Alloh sepenuh hati dan Cintanya kepada Alloh melebihi
Cintanya kepada yang lain akan memperolehi lebih banyak kebahagiaan daripada
pandangan melebihi daripada mereka yang dalam hatinya tidak ada pandangan
ini. Umpama dua orang yang kekuatan matanya sama saja memandang kepada
wajah yang cantik. Orang yang telah ada cintanya kepada orang yang memiliki
wajah itu akan merasa tertarik dan bahagia memandang wajah itu melebihi dari
orang yang tidak ada cintanya kepada orang yang mempunyai wajah itu.

Untuk kebahagiaan yang sempurna, ilmu saja tidak tidaklah cukup.
Hendaklah disertakan dengan Cinta. Cinta kepada Alloh itu tidak akan
tercapai selagi hati itu tidak dibersihkan daripada cinta kepada dunia.
Pembersihan ini dapat dilakukan dengan menahan diri dari hawa nafsu
yang rendah dan bersikap zuhud.

Semasa dalam dunia ini, keadaan seseorang itu terhadap “Memandang Alloh”
adalah ibarat orang yang cinta yang melihat muka orang yang yang dicintai
dalam waktu senja kala dan pakaiannya penuh dengan penyengat dan
kalajengking yang senatiasa menggigitnya. Tetapi sekiranya matahari terbit dan
menunjukkan muka yang dicintai dengan segala keindahannya, dan penyengat
serta kala itu telah pergi darinya, maka kebahagiaan orang yang cinta itu adalah
seperti hamba Alloh yang terlepas dari gelap senja dan azab cobaan di dunia ini,

lalu melihat dia tanpa hijab lagi.
Abu Sulaiman berkata;
26

“Siapa yang sibuk dengan dirinya sendiri saja di dunia ini, akan sibuk juga
dengan dirinya di akhirat kelak, dan siapa yang sibuk dengan Alloh di
dunia ini akan sibuk juga dengan Alloh di akhirat kelak”.

Yahya bin Mu’adz menceritakan;
“Saya lihat Abu Yazid Bustomin sembahyang sepanjang malam. apabila beliau telah
habis sembahyang, beliau berdoa dan berkata :

“Oh Tuhan!!! Setengah dari hambaMu meminta padaMu kuasa untuk
membuat sesuatu yang luar biasa (karamat) seperti berjalan di atas air,
terbang di udara, tetapi aku tidak meminta itu; ada pula yang meminta
harta karun, tetapi aku tidak meminta itu,

kemudian ia memalingkan mukanya dan setelah dilihatnya saya, ia berkata;
“Kamu di situ Yahya?” Saya menjawab; “Ya!” Beliau bertanya lagi; “Sejak
kapan?” Saya menjawab; “Telah lama saya di sini” Kemudian saya bertanya dan
beliau menceritakan kepada saya setengah daripada pengalaman keruhaniannya.

“Saya akan menceritakan” Jawab beliau. “Apa yang boleh saya ceritakan
kepadamu,Alloh Subhahahuwa Taala menunjukkan aku kerajaanNya dari

yang paling tinggi hingga ke paling rendah. DiangkatNya saya melampaui Arash dan Kursi dan tujuh petala langitnya, kemudian Ia (Alloh) berkata; “Pintalah kepadaKu apa saja yang engkau kehendaki”.

Saya menjawab; “Ya Alloh!!! tidak akan saya minta apa pun melainkan
Engkau”.
JawabNya (Alloh) : “Sesungguhnya engkau hambaKu yang sebenar
benarnya”.
Pada suatu ketika pula Abu Yazid berkata:

“Sekiranya Alloh mengkaruniakan engkau kemiripan denganNya seperti
Ibrahim, kekuasaan Sholat Musa, keruhanian ‘Isa, namun wajahmu
hadapkanlah kepada Dia saja karena ia ada harta yang melampaui segala-
galanya itu”

Suatu hari seorang sahabatnya berkata kepada beliau; “Selama tiga puluh tahun
saya puasa di siang hari dan sembahyang di malam hari tetapi saya tidak dapati
kenikmatan keruhanian yang engkau katakan itu”.

Abu Yazid menjawab; “Jika engkau puasa dan sembahyang selama tiga ratus tahun
pun, engkau tidak akan mendapatkannya”.
Sahabatnnya berkata; “Bagaimanakah itu?”

Kata Abu Yazid; “obatnya ada tetapi engkau tidak akan sanggup menelannya
obat itu”. Tetapi oleh karena sahabatnya itu bersungguh-sungguh benar
meminta supaya diceritakan, Abu Yazid pun berkata;

“Pergilah kepada tukang gunting dan cukurlah janggutmu itu; buanglah
pakaianmu itu kecuali seluar dalam saja. Ambil satu kampit penuh yang
berisi “Siapa yang mau menempeleng kuduk leherku dia akan mendapat
buah ini” Kemudian dalam keadaan ini pergilah kepada Kadi dan ahli
syariat dan berkata; “Berkatilah Ruhku”.

Kata sahabatnya; “Tidak sanggup saya berbuat demikian, berilah saya cara
yang lain”.
Abu Yazid pun berkata;”Inilah saja caranya, tetapi seperti yang telah
saya katakan kamu ini tidak dapat diobat lagi”.

Sebab Abu Yazid berkata demikian kepada orang itu ialah karena orang
itu sebenarnya pencari pangkat dan kedudukan. Bercita-cita hendak
pangkat dan kedudukan seperti bersikap sombong dan bangga adalah
penyakit yang hanya dapat diobat dengan cara yang demikian itu.

Alloh berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong
(agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada
pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi
penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-
pengikut yang setia itu berkata: “Kami lah penolong-penolong agama
Allah”, lalu segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan (yang
lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang
beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-
orang yang menang. (Ash Shaff:14)

Apabila orang bertanya kepada Nabi ‘Isa; “Apakah kerja yang paling tinggi sekali
derajatnya?” Beliau menjawab;”Mencintai Alloh dan tunduk kepadaNya”.27

Suatu ketika orang bertanya kepada Wali Alloh bernama Rabi’atul Adawiyah sama
ada beliau cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau menjawab; ” Cinta kepada
Alloh menghalang aku cinta kepada makhluk”.
Ibrahim bin Adham dalam doanya berkata;”Ya Alloh! pada mataku syurga itu

sendiri lebih kecil dari unggas jika dibandingkan dengan Cintaku
terhadapMu dan kenikmatan mengingatiMu yang Engkau telah kurniakan
kepadaku”.

Siapa yang menganggap ada kemungkinan menikmati kebahagiaan di akhirat
tanpa mencintai Alloh adalah orang yang telah jauh sesat anggapannya, karena
segala-galanya di akhirat itu adalah kembali kepada Alloh dan Alloh itulah alamat
yang dituju dan dicapai setelah melalui halangan yang tidak terhingga banyaknya.
Nikmat memandang Alloh itu adalah kebahagiaan. Jika seseorang itu tidak suka
kepada Alloh di sini, maka di sana pun ia tidak suka juga kepada Alloh. Jika sedikit
saja sukanya kepada Alloh di sini, maka sedikit jugalah sukanya kepada Alloh di
sana . Pendeknya, kebahagiaan kita di akhirat adalah tergantung pada kadar
Cintanya kita kepada Alloh di dunia ini.

Sebaliknya jika dalam hati manusia itu ada tumbuh cinta kepada apa saja yang
berlawanan dengan Alloh, maka keadaan hidup di akhirat sana akan berlainan dan
ganjil sekali kepadanya dan dengan ini apa saja yang mendatangkan kebahagiaan
kepada orang lain, akan mendatangkan ‘azab sengsara kepadanya. Mudah-
mudahan Alloh lindungi kita dari terjadi sedemikian itu.

Ini bolehlah kita gambarkan dengan misalnya seperti berikut :

Seorang pengangkut sampah pergi ke kedai yang menjual minyak wangi. Apabila
beliau membawa bau-bauan yang harum wangi itu, ia pun jatuh dan tidak sadar
diri. Orang pun datang hendak memberi pertolongan kepadanya. Air dipercikkan
kemukanya dan dihidungnya diletakkan kasturi. Tetapi beliau bertambah parah.
Akhirnya datanglah seorang pengangkut sampah juga, lalu diletakkan sedikit
sampah kotor di bawah hidung orang yang pingsan itu. Dengan segera orang itu
pun sadar semula sambil berseru dengan rasa puas hati, “Wah! Inilah sebenarnya
wangi!”

Demikian jugalah, ahli dunia tidak akan menjumpai lagi karat dan kotor dunia ini
diakhirat. Kenikmatan keruhaniah alam sana berlainan sekali dan tidak sesuai
dengan kehendaknya. Maka ini menjadikannya bertambah parah dan sengsara
lagi. karena alam sana itu adalah alam ruhaniah dan penzhohiran Jamal
(keindahan) Alloh Subhanahuwa Taala. Berbahagialah mereka yang ingin mencapai
kebahagiaan di sana itu dan menyesuaikan dirinya dengan alam itu. Semua sikap
zahud, menahan diri ibadah, menuntut ilmu adalah bertujuan untuk mencapai
penyesuaian itu dan penyesuaian itu adalah cintanya. Inilah maksud Al-Quran:

…….., Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan
menyukai orang-orang yang menyucikan diri.(Al Baqoroh:222)
Dosa dan maksiat sangat bertentang dengan masalah ini Oleh karena itulah
tercantum dalam Al-Quran:

Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. (Al Jaatsiyah:27)

Orang yang dikaruniai dengan mata keruhanian telah nampak hakikat ini dalam
rasa pengalaman mereka bukan hanya kata-kata yang diterima turun-menurun
sejak dahulu lagi. Pandangan mereka itu membawa kepercayaan bahwa orang
yang berkata demikian adalah sebenarnya Nabi, ibarat orang yang mengkaji
ilmu pengobatan, akan tahu adakah orang yang berbicara berkenaan pengobatan
itu sebenarnya dokter ataupun bukan. Ini adalah jenis keyakinan yang tidak
perlu dibantu dengan mukjizat atau perbuatan yang diluar kebiasaan karena yang demikian pun dapat dilakukan juga oleh tukang sihir atau tukang silap
mata

About ANNAS AL KHASANUL WAJHI

SANTRI MIFTAHUL `ULUM NGAWEN,hamba yang tak butuh pujian,tak pedulikan cacian

Posted on Februari 4, 2013, in terjemah kitab. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Thobiby Qolby

Wahai yang jauh dariku dan tempatnya di lubuk hati yang terdalam

Elang Indigo

،،السلام عليكم ورحمة الله وبركاته،، My Friends,nothing freedom in this world because true free in your spirit!

Sholawat

bershalawatlah kalian kepada Nabi Muhammad

AL MUQTASHIDAH LANGITAN

Memasyarakatkan Sholawat Dan Mensholawatkan Masyarakat

Salam Semangat

"Maha Suci Engkau ya Tuhanku, tiadalah daku mengetahui apa pun, kecuali yang telah Engkau ajarkan kepadaku. Robbana, jadikan ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku ini bermanfaat. Dan tambahkan ilmu yang bermanfaat kepadaku".

Tarekat Qodiriyah

Jalan Keselamatan Menuju Kepada Allah Swt

Newbie Tora

Takkan ada perubahan tanpa ada perbuatan

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Cahaya Qur'ani

Hidup Damai Bersama Al-Quran

Laki-laki Biasa

kumpulan berbagai macam artikel, renungan dan kata-kata bijak

Bacalah!

Membuka Pikiran Anda

Pengemban Amanah Sang Pencipta

“Setiap ilmu seseorang bertambah, maka bertambah pula seseorang mengenal kebodohannya" By : Dedi Sujatmo

MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan .......

Ilmu Langit .wordpress

Sharing hakikat

Jaman Semana

Sapa Wani Karo Aku, Wong Aku Ora Wani Karo Sapa-sapa

Ashabul firdaus's Blog

Buka Hati Meniti Hari

"Bisa Karena Terbiasa"

Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

FITRIA KURNIAWAN (ABU FAHD)

Agen Herbal, Adventure, Dakwah, Kisah, dll

FURQON BLOG

Pencari Debu-debu Kebenaran

%d blogger menyukai ini: